
Pantau - Pemerintah Lebanon menegaskan tidak akan menandatangani kesepakatan apa pun dengan Israel tanpa penarikan penuh pasukan Israel dari wilayahnya, di tengah upaya negosiasi yang berlangsung.
Pernyataan tersebut disampaikan Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam sebagaimana dilaporkan pada Kamis, terkait sikap Beirut dalam pembicaraan damai dengan Israel.
Syarat Tegas dalam Negosiasi
"Kita tidak dapat hidup dengan adanya zona penyangga… kehadiran Israel di mana pengungsi Lebanon tidak diizinkan untuk kembali, di mana desa dan kota yang hancur tidak dapat dibangun kembali," kata Salam.
Ia menegaskan bahwa keberadaan pasukan Israel di wilayah Lebanon menjadi penghambat utama pemulihan dan kembalinya warga terdampak konflik.
Presiden Lebanon Joseph Aoun juga menegaskan bahwa kesediaan bernegosiasi bukan berarti menyerah, melainkan untuk mencari solusi permanen atas konflik bersenjata.
Gencatan Senjata dan Ketegangan Berlanjut
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Lebanon dan Israel yang dimulai pada 17 April.
Namun demikian, laporan menyebutkan bahwa pasukan Israel masih melakukan serangan udara, artileri, dan drone yang diduga melanggar kesepakatan tersebut.
Rencana pembicaraan lanjutan antara kedua pihak juga akan digelar di Washington pada tingkat duta besar untuk mencari titik temu dalam konflik yang terus memanas.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf








