
Pantau - Iran mengusulkan pembukaan Selat Hormuz dan penghentian konflik lebih dulu dengan menunda perundingan nuklir ke tahap berikutnya di tengah kebuntuan diplomatik dengan Amerika Serikat.
Usulan tersebut dilaporkan disampaikan melalui pihak penengah, termasuk Pakistan, sebagai upaya mempercepat pemulihan lalu lintas pelayaran dan meredakan ketegangan di kawasan.
Sumber menyebutkan rencana itu mencakup perpanjangan gencatan senjata dalam jangka panjang atau permanen, sementara pembahasan terkait pengayaan uranium baru dilakukan setelah blokade berakhir.
Respons AS dan Dinamika Diplomatik
Seorang pejabat AS menyatakan Gedung Putih telah menerima proposal tersebut, namun belum memberikan sinyal akan menindaklanjutinya.
Presiden AS Donald Trump menegaskan keinginannya mempertahankan blokade laut terhadap Iran sebagai bentuk tekanan.
Ia mengatakan, "Ketika anda punya minyak yang sangat banyak ... dan jika salurannya ditutup ... salurannya akan meledak dari dalam," katanya.
Juru bicara Gedung Putih Olivia Wales juga menyebut, "Hal ini adalah diskusi diplomatik yang sensitif ... AS memegang semua kartunya," ujarnya.
Upaya Negosiasi dan Peran Negara Penengah
Di tengah situasi tersebut, aktivitas diplomatik terus berlangsung dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan pembicaraan di Pakistan dan Oman.
Ia juga dijadwalkan bertemu Presiden Rusia Vladimir Putin di St. Petersburg untuk membahas perkembangan terbaru.
Sebelumnya, negosiasi tahap awal antara AS dan Iran pada 11–12 April di Islamabad belum menghasilkan kesepakatan, meski sempat diawali gencatan senjata dua pekan yang kemudian diperpanjang.
Sejumlah isu utama masih menjadi hambatan, termasuk pembukaan Selat Hormuz, blokade pelabuhan Iran, serta hak pengayaan uranium.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf







