HOME  ⁄  Geopolitik

Trump Dorong Koalisi Internasional Baru untuk Buka Selat Hormuz di Tengah Ketegangan dengan Iran

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Trump Dorong Koalisi Internasional Baru untuk Buka Selat Hormuz di Tengah Ketegangan dengan Iran
Foto: (Sumber: Presiden AS Donald Trump mengadakan konferensi pers di Gedung Putih di Washington, DC, tak lama setelah insiden penembakan di acara White House Correspondents' Dinner pada 25 April 2026. ANTARA/Celal Güneş - Anadolu Agency/pri..)

Pantau - Pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump tengah membangun koalisi internasional baru guna memulihkan pelayaran di Selat Hormuz yang terhenti akibat kebuntuan negosiasi dengan Iran.

Upaya Bentuk Aliansi Maritim Global

Langkah ini dilakukan melalui inisiatif bernama Maritime Freedom Construct yang bertujuan mengoordinasikan pertukaran informasi, diplomasi, hingga penerapan sanksi untuk membuka kembali jalur strategis tersebut.

Dalam dokumen diplomatik internal Departemen Luar Negeri AS yang dikutip media, pemerintah Washington meminta para diplomatnya mendorong negara mitra untuk bergabung dalam aliansi tersebut.

"Partisipasi Anda akan memperkuat kemampuan kolektif kami untuk memulihkan kebebasan navigasi dan melindungi ekonomi global," demikian bunyi dokumen tersebut.

Seorang pejabat senior AS juga mengonfirmasi bahwa proposal ini menjadi salah satu langkah strategis yang tengah disiapkan pemerintah.

Ketegangan AS-Iran Picu Gangguan Pelayaran

Inisiatif ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran yang dilaporkan memasang ranjau dan menyerang kapal tanker tanpa persetujuan Teheran.

Di sisi lain, Amerika Serikat melakukan blokade terhadap kapal yang menuju atau berasal dari pelabuhan Iran.

Meski sebelumnya Trump menyatakan Selat Hormuz telah terbuka penuh untuk perdagangan, faktanya lalu lintas kapal masih terhenti.

Situasi ini menjadi salah satu isu utama dalam negosiasi yang buntu antara kedua negara terkait program nuklir Iran.

Trump bahkan disebut telah menginstruksikan persiapan blokade jangka panjang hingga Iran menyetujui tuntutan penghentian program nuklirnya.

Penulis :
Ahmad Yusuf