
Pantau - Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) mengumumkan aturan maritim baru di wilayah Teluk dan Selat Hormuz sebagai langkah strategis di tengah meningkatnya ketegangan kawasan.
Kebijakan tersebut diterapkan atas arahan Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei dengan fokus pada pengendalian hampir 2.000 kilometer garis pantai Iran di kawasan vital tersebut.
IRGC menyatakan pengendalian ini mencakup wilayah Teluk dan Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur utama perdagangan energi dunia.
"perairan ini sebagai sumber penghidupan dan kekuatan bagi rakyat Iran yang mulia, dan sumber keamanan dan kemakmuran bagi kawasan tersebut," menurut laporan media pemerintah Iran.
Pemerintah Iran hingga kini belum mengungkapkan rincian teknis lebih lanjut terkait penerapan aturan maritim tersebut.
Ketegangan Memuncak di Selat Hormuz
Ketegangan di Selat Hormuz meningkat akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
Serangan militer oleh Amerika Serikat dan Israel dilaporkan terjadi sejak 28 Februari yang memicu respons keras dari Iran.
Iran sebelumnya sempat membatasi lalu lintas di Selat Hormuz sebagai langkah balasan atas serangan tersebut.
Gencatan Senjata dan Blokade Laut
Gencatan senjata sempat tercapai pada 8 April melalui mediasi Pakistan untuk meredakan konflik yang terus memanas.
Pembicaraan lanjutan dilakukan di Islamabad pada 11 hingga 12 April, namun tidak menghasilkan kesepakatan permanen antara pihak-pihak terkait.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata secara sepihak tanpa menetapkan batas waktu baru atas permintaan Pakistan.
Sejak 13 April, Amerika Serikat memberlakukan blokade angkatan laut terhadap Iran yang menargetkan lalu lintas maritim di kawasan Selat Hormuz.
Situasi ini semakin meningkatkan ketegangan geopolitik di salah satu jalur perdagangan energi paling vital di dunia tersebut.
- Penulis :
- Arian Mesa





