
Pantau - Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel menyatakan ancaman militer dari Amerika Serikat meningkat drastis hingga mencapai tingkat yang dinilai berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya.
Díaz-Canel menegaskan Kuba siap mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaannya dari potensi agresi militer.
Ia mengatakan, "Presiden Amerika Serikat (Donald Trump) meningkatkan ancaman agresi militernya terhadap Kuba hingga ke tingkat yang berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya. Komunitas internasional harus mencatat dan, bersama rakyat Amerika Serikat, menentukan apakah langkah kriminal semacam itu diizinkan berlangsung demi memuaskan kepentingan sebuah kelompok kecil yang kaya dan berpengaruh, didorong oleh keinginan membalas dendam dan mendominasi,"
Ia juga menegaskan bahwa pihak yang menyerang Kuba akan menghadapi perlawanan dari rakyat.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menandatangani perintah eksekutif yang membatasi institusi keuangan asing yang bertransaksi dengan Kuba.
Kebijakan tersebut mengharuskan pihak terkait tunduk pada sanksi Amerika Serikat.
Díaz-Canel menilai langkah tersebut sebagai cerminan kemelaratan moral pemerintah AS serta memperparah tekanan ekonomi akibat embargo.
Pemerintah Kuba juga menyoroti embargo energi yang disebut digunakan untuk melemahkan ekonomi nasional.
Pada 29 Januari, Amerika Serikat turut menetapkan tarif impor bagi negara pemasok minyak ke Kuba.
Selain itu, AS menyatakan keadaan darurat dengan alasan ancaman terhadap keamanan nasional.
Kuba menilai berbagai kebijakan tersebut sebagai bentuk intimidasi dan arogansi kekuatan militer.
Situasi ini mencerminkan meningkatnya ketegangan antara Kuba dan Amerika Serikat di tengah dinamika geopolitik global.
- Penulis :
- Gerry Eka





