HOME  ⁄  Geopolitik

UNESCO Serukan Perlindungan Jurnalis di Tengah Penurunan Kebebasan Pers Global

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

UNESCO Serukan Perlindungan Jurnalis di Tengah Penurunan Kebebasan Pers Global
Foto: (Sumber: Sebuah kendaraan terbakar setelah terkena serangan udara Israel yang menewaskan seorang jurnalis Al Jazeera, di Kota Gaza, Palestina, Rabu (8/4/2026) waktu setempat. ANTARA FOTO/Xinhua/Rizek Abdeljawad/nym.)

Pantau - UNESCO mendesak pemerintah dan masyarakat sipil di seluruh dunia untuk memperkuat perlindungan terhadap jurnalis serta mendukung jurnalisme independen di tengah tren penurunan kebebasan pers global.

Direktur Jenderal UNESCO Khaled El-Enany menyatakan bahwa "Saya menyerukan kepada negara anggota dan seluruh mitra kami untuk berinvestasi dalam jurnalisme sebagai pilar perdamaian. Informasi yang bebas dan akurat merupakan hal penting bagi publik,".

UNESCO menegaskan bahwa kebijakan perdamaian dan keamanan harus mencakup perlindungan media yang bebas dan independen.

Pembiayaan berkelanjutan bagi media dinilai penting agar jurnalisme tetap bertahan.

Disebutkan bahwa "Ruang redaksi di seluruh dunia sedang berjuang untuk bertahan secara finansial, dan menghadapi ancaman eksistensial. Di tengah penyebaran disinformasi melalui media sosial dan kecerdasan artifisial dengan kecepatan dan skala yang belum pernah terjadi sebelumnya, jurnalisme menjadi garis pertahanan terakhir bagi masyarakat terhadap manipulasi dan perpecahan,".

Laporan UNESCO menunjukkan kebebasan berekspresi global menurun sekitar 10 persen sejak 2012.

Penurunan ini disebut setara dengan kondisi pada periode krisis besar dunia seperti perang global.

Data dari Varieties of Democracy menunjukkan peningkatan praktik sensor diri jurnalis sebesar 69 persen hingga 2025.

Sensor diri terjadi akibat tekanan yang semakin meningkat terhadap jurnalis.

Jurnalis juga menghadapi tekanan hukum seperti gugatan pencemaran nama baik dan regulasi pembatasan media.

Kekerasan terhadap jurnalis di ruang digital meningkat, terutama terhadap jurnalis perempuan.

Sekitar 75 persen jurnalis perempuan mengalami kekerasan daring.

Sebanyak 42 persen dari mereka mengalami eskalasi menjadi ancaman di dunia nyata.

Meski demikian, terdapat kemajuan dalam dukungan terhadap media komunitas.

Hampir separuh dari 194 negara memiliki kerangka hukum yang mengakui media komunitas.

Sebanyak 139 negara anggota PBB telah menjamin hak akses publik terhadap informasi.

Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial juga mendorong kolaborasi jurnalisme lintas negara.

Dalam peringatan Hari Kebebasan Pers Dunia, UNESCO memberikan penghargaan kepada Sudanese Journalists Syndicate.

Penghargaan tersebut diberikan atas keberanian jurnalis yang bekerja di tengah konflik dan risiko tinggi.

Penulis :
Gerry Eka