HOME  ⁄  Geopolitik

Iran Bantah Serang UAE dan Tuduh Emirat Jadi Basis Operasi AS-Israel

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Iran Bantah Serang UAE dan Tuduh Emirat Jadi Basis Operasi AS-Israel
Foto: (Sumber: Kilatan rudal melintas di atas Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), Sabtu (28/2/2026). ANTARA/Xinhua/Wen Xinnian/aa..)

Pantau - Angkatan bersenjata Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) membantah telah melancarkan serangan rudal maupun drone terhadap Uni Emirat Arab (UAE) dalam beberapa hari terakhir di tengah memanasnya konflik kawasan Teluk.

Pernyataan itu disampaikan melalui laporan media pemerintah IRIB pada Selasa (5/5) yang mengutip juru bicara Markas Besar IRGC Khatam al-Anbiya.

IRGC menegaskan tidak ada operasi militer yang dilakukan Teheran terhadap wilayah UAE.

“Iran tidak melakukan operasi semacam itu,” demikian pernyataan yang dikutip IRIB.

IRGC Sebut Tuduhan UAE Tidak Berdasar

IRGC juga menolak tuduhan Kementerian Pertahanan UAE yang menyebut adanya serangan rudal dan drone dari Iran.

Menurut IRGC, tuduhan tersebut tidak memiliki dasar yang jelas.

Namun, Iran memperingatkan akan memberikan respons tegas apabila ada serangan terhadap wilayahnya yang berasal dari UAE.

IRGC turut menuding UAE mengizinkan pasukan AS dan Israel beroperasi dari wilayah Emirat.

Iran mendesak otoritas UAE agar tidak menjadikan negaranya sebagai basis operasi bagi apa yang disebut Teheran sebagai “kekuatan musuh”.

Ketegangan Teluk Kian Memanas

Peringatan IRGC muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk setelah dua hari berturut-turut dilaporkan terjadi serangan yang menargetkan UAE.

Pihak berwenang UAE sebelumnya menyatakan sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat gelombang rudal jelajah dan drone yang disebut diluncurkan dari Iran.

Serangan sebelumnya juga dilaporkan menyebabkan kebakaran besar di Zona Industri Minyak Fujairah.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

Serangan gabungan tersebut memicu balasan dari Teheran dan gangguan di Selat Hormuz yang menjadi jalur strategis perdagangan energi dunia.

Gencatan senjata sempat disepakati pada 8 April melalui mediasi Pakistan, namun pembicaraan lanjutan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan permanen.

Penulis :
Aditya Yohan