
Pantau - Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan Berlin siap berpartisipasi dalam upaya memastikan jalur pelayaran aman di Selat Hormuz, termasuk melalui pengerahan kekuatan militer di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Pernyataan itu disampaikan Merz usai bertemu Perdana Menteri Portugal Luis Montenegro di Berlin pada Selasa (5/5).
“Dalam kondisi yang tepat, Jerman siap untuk mengambil bagian dalam memastikan kebebasan jalur laut, termasuk melalui cara-cara militer,” ujar Merz.
Ia juga mengonfirmasi kapal pertama Angkatan Laut Jerman telah diberangkatkan menuju Laut Mediterania timur dan berpotensi dikerahkan ke Selat Hormuz.
“Kapal pertama Jerman sudah menuju Mediterania timur,” ungkapnya.
Jerman Desak Iran Buka Blokade Hormuz
Merz kembali menyerukan peningkatan tekanan sanksi terhadap Iran apabila Teheran terus menutup akses pelayaran di Selat Hormuz.
Menurut dia, Iran harus segera kembali ke meja perundingan dan menghentikan tindakan yang dinilai mengganggu stabilitas kawasan.
“Seruan bersama kita adalah agar Iran duduk di meja perundingan, harus berhenti membuang waktu, dan tidak boleh lagi ‘menyandera’ kawasan dan seluruh dunia,” katanya.
Kanselir Jerman itu juga menuntut penghentian program nuklir militer Iran dan diakhirinya konflik di Timur Tengah.
Namun, Iran berulang kali menegaskan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan damai dan tidak bertujuan mengembangkan senjata nuklir.
Ketegangan Hormuz Kian Memanas
Media Jerman NDR melaporkan kapal penyapu ranjau Angkatan Laut Jerman FGS Fulda telah meninggalkan pangkalan di Kiel menuju Laut Mediterania untuk kemungkinan ikut dalam misi keamanan maritim internasional di Selat Hormuz.
Situasi di kawasan semakin memanas setelah Presiden AS Donald Trump pada 3 Mei mengumumkan operasi Project Freedom untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz.
Menanggapi langkah itu, Komandan Markas Besar Angkatan Bersenjata Iran Ali Abdollahi memperingatkan AS agar tidak mendekati wilayah tersebut.
Iran juga menyatakan siap menyerang pasukan AS apabila terjadi pelanggaran di kawasan strategis tersebut.
- Penulis :
- Aditya Yohan





