HOME  ⁄  Geopolitik

Trump Sebut Iran Bermain Taktik, Tapi Tetap Ingin Kesepakatan Damai dengan AS

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Trump Sebut Iran Bermain Taktik, Tapi Tetap Ingin Kesepakatan Damai dengan AS
Foto: (Sumber: Ilustrasi - Kapal tanker melintas di selat Hormuz. /ANTARA/Anadolu/aa..)

Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Iran bermain taktik dalam komunikasi politiknya, namun meyakini Teheran tetap ingin mencapai kesepakatan damai dengan Washington di tengah memanasnya konflik di Selat Hormuz.

“Yang tidak saya suka dari Iran adalah mereka berbicara kepada saya dengan penuh hormat, lalu di televisi mereka berkata ‘Kami tidak berbicara dengan Presiden.’ Padahal saya baru saja berbicara… Mereka bermain-main. Tapi saya katakan, mereka ingin membuat kesepakatan,” ujar Trump kepada wartawan pada Selasa (5/5).

Trump juga menolak menjelaskan secara rinci tindakan apa yang akan dianggap sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh Iran.

“Nanti Anda akan tahu, karena saya akan memberi tahu. Mereka tahu apa yang harus dilakukan, dan tahu apa yang tidak boleh dilakukan,” ungkapnya.

Ketegangan di Selat Hormuz Memanas

Pernyataan Trump muncul setelah Iran dan Amerika Serikat saling mengklaim terkait insiden di Selat Hormuz.

Media nasional Iran, IRIB, melaporkan militer Iran mencegah kapal perang AS memasuki Selat Hormuz dengan menembakkan dua rudal.

Namun, klaim tersebut dibantah oleh Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM.

Sebelumnya, Trump mengumumkan operasi “Project Freedom” untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz agar dapat keluar dari wilayah tersebut.

Gencatan Senjata Belum Hasilkan Kesepakatan

Konflik antara Iran dengan AS dan Israel meningkat sejak 28 Februari setelah serangan terhadap target di Iran menimbulkan kerusakan dan korban sipil.

Pada 7 April, Washington dan Teheran sepakat melakukan gencatan senjata selama dua pekan.

Namun, pembicaraan lanjutan di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan damai.

Trump kemudian memperpanjang penghentian serangan untuk memberi waktu bagi Iran menyusun “proposal terpadu”.

Penulis :
Ahmad Yusuf