
Pantau - Rusia memperingatkan adanya risiko provokasi dalam konflik di sekitar Iran yang berpotensi memicu kembali konfrontasi bersenjata berskala besar di kawasan Timur Tengah.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan seluruh pihak yang terlibat dalam konflik harus meningkatkan kewaspadaan terhadap upaya pihak tertentu yang ingin menggagalkan proses perdamaian.
“Dengan mempertimbangkan ketegangan yang masih berlangsung di kawasan, bahkan tindakan yang bersifat terisolasi dapat memicu kembali konfrontasi bersenjata berskala besar," kata Zakharova dalam pernyataan yang dipublikasikan Kementerian Luar Negeri Rusia, Selasa.
“Oleh karena itu, penting untuk tetap waspada terhadap kemungkinan provokasi oleh pihak-pihak yang berupaya merusak upaya perdamaian dan menghambat stabilisasi secara keseluruhan,” lanjutnya.
Konflik Iran Belum Sepenuhnya Mereda
Ketegangan di kawasan meningkat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke wilayah Iran pada 28 Februari 2026 yang menyebabkan lebih dari 3.000 korban jiwa.
Washington dan Teheran kemudian menyepakati gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April 2026.
Namun, perundingan lanjutan yang digelar di Islamabad belum menghasilkan terobosan berarti.
Hingga kini belum ada laporan mengenai dimulainya kembali serangan bersenjata, meski Amerika Serikat diketahui masih memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran.
Mediator Upayakan Putaran Baru Perundingan
Sejumlah mediator internasional saat ini terus mengupayakan pembukaan putaran baru perundingan guna mencegah konflik kembali meluas.
Peringatan Rusia muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk, termasuk situasi di Selat Hormuz yang menjadi jalur perdagangan energi dunia.
Sebelumnya, Amerika Serikat juga mendesak negara-negara sekutunya untuk membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang terdampak konflik.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





