
Pantau - Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan atau OCHA menyebut sekitar 2,1 juta warga di Jalur Gaza masih terkurung di area yang luasnya kurang dari separuh wilayah Gaza.
OCHA menyatakan warga Gaza tidak dapat mengakses sejumlah wilayah penting yang menjadi lokasi fasilitas vital dan cadangan lahan.
Selain itu, warga juga tidak dapat bepergian ke luar negeri maupun menuju Tepi Barat untuk mendapatkan layanan kesehatan spesialis.
“Warga yang diizinkan keluar sebagai bagian dari evakuasi medis hanyalah sebagian kecil dari mereka yang membutuhkan layanan yang tidak tersedia secara lokal,” demikian pernyataan OCHA dalam rilis persnya.
Bantuan Kemanusiaan Masih Terbatas
OCHA menjelaskan pemulihan layanan dasar di Gaza masih terhambat akibat pembatasan masuknya barang-barang penting serta pembatasan terhadap operasi mitra kemanusiaan.
Meski menghadapi berbagai hambatan, mitra kemanusiaan OCHA pekan lalu berhasil menyalurkan hampir 5.000 alat tidur, 600 perlengkapan tempat tidur, lebih dari 1.500 perlengkapan penutup darurat, dan hampir 550 tenda untuk lebih dari 4.400 keluarga.
Mitra kemanusiaan juga terus menyediakan sekitar 1,1 juta porsi makanan setiap hari melalui lebih dari 120 dapur umum di Gaza.
Namun, OCHA mengutip Program Pangan Dunia atau WFP yang menyebut kelaparan masih menghantui warga Gaza meski telah lebih dari enam bulan sejak deklarasi gencatan senjata.
“Keluarga-keluarga masih bergantung pada bantuan pangan untuk bertahan hidup karena harga makanan segar masih terlalu mahal,” tulis OCHA.
Laporan itu juga menyebut satu dari lima keluarga di Gaza hanya makan satu kali dalam sehari.
Warga Terpaksa Bakar Sampah untuk Memasak
OCHA mengungkapkan mitra sektor ketahanan pangan memperingatkan adanya kelangkaan gas memasak di Gaza.
Kondisi tersebut memaksa hampir tujuh dari setiap 10 keluarga menggunakan cara tidak aman seperti membakar sampah untuk memasak.
Angka tersebut meningkat 13 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara itu di Tepi Barat, OCHA mencatat lebih dari 30 warga mengungsi dalam sepekan terakhir akibat ancaman dan serangan berulang dari pemukim di wilayah Hebron dan Ramallah.
Sejak 2023, lebih dari 5.900 warga Palestina disebut telah mengungsi akibat kekerasan pemukim, termasuk sekitar 2.000 orang sepanjang tahun ini.
- Penulis :
- Aditya Yohan





