
Pantau - Pemerintah Iran mulai memulihkan fasilitas minyak dan gas yang mengalami kerusakan akibat konflik dengan Amerika Serikat dan Israel dalam perang yang berlangsung selama 40 hari.
Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengatakan pemulihan fasilitas energi menjadi prioritas utama pemerintah saat ini.
“Selama perang 40 hari, fasilitas minyak mengalami kerusakan dan serangan. Prioritas utama adalah memulihkannya secepat mungkin, dan hingga kini proses berjalan dengan baik,” kata Paknejad kepada lembaga penyiaran nasional Iran.
Direktur Perusahaan Gas Nasional Iran Saeed Tavakoli menambahkan empat stasiun pemrosesan gas di ladang South Pars turut mengalami kerusakan selama konflik berlangsung.
Konflik AS-Iran Picu Gangguan Energi
Konflik bermula pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan fasilitas serta korban sipil di berbagai wilayah.
Pada 7 April 2026, Washington dan Teheran sepakat melakukan gencatan senjata selama dua pekan.
Namun, pembicaraan lanjutan yang berlangsung di Islamabad berakhir tanpa kesepakatan final.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian memperpanjang penghentian pertempuran untuk memberi waktu kepada Iran menyusun “proposal terpadu.”
Selat Hormuz Sempat Lumpuh
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat sempat mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dan gas alam cair dunia.
Gangguan tersebut mendorong kenaikan harga energi global akibat kekhawatiran terganggunya pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.
Trump sebelumnya mengumumkan operasi Project Freedom untuk membantu kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz agar dapat keluar dengan aman.
Namun, pada Selasa waktu setempat, Trump memutuskan menunda operasi tersebut sementara guna membuka peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





