HOME  ⁄  Geopolitik

Dubes Fadjroel Optimistis Perdagangan RI-Kazakhstan Tembus Rp35 Triliun

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Dubes Fadjroel Optimistis Perdagangan RI-Kazakhstan Tembus Rp35 Triliun
Foto: (Sumber: Suasana Sidang Komisi Bersama (SKB) ke-2 antara Indonesia dengan Kazakhstan yang berlangsung di Astana, Senin (11/5). /ANTARA/HO-KBRI Astana..)

Pantau - Duta Besar RI untuk Kazakhstan M. Fadjroel Rachman optimistis nilai perdagangan Indonesia dan Kazakhstan dapat mencapai 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp35,03 triliun seiring penguatan kerja sama ekonomi kedua negara melalui Sidang Komisi Bersama (SKB) RI-Kazakhstan.

“Kami optimistis perdagangan Indonesia-Kazakhstan dapat menembus target baru 2 miliar dolar AS,” ujar Fadjroel dalam rilis Kedutaan Besar RI di Astana yang diterima di Jakarta, Rabu.

Fadjroel menyebut target tersebut didorong pengembangan kerja sama di sektor logistik, penerbangan langsung, bebas visa, perlindungan investasi, hingga kolaborasi energi dan mineral.

Indonesia-EAEU FTA Jadi Pendorong Utama

Fadjroel menilai implementasi Indonesia–Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (Indonesia–EAEU FTA) akan menjadi motor utama peningkatan perdagangan kedua negara.

Ia mengatakan potensi perdagangan dalam kerangka kerja sama Indonesia-EAEU dapat mencapai 10 miliar dolar AS dengan melibatkan Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kyrgyzstan.

“Kita sedang membangun jembatan emas persahabatan dan kemakmuran bersama ke masa depan. Ini adalah action-oriented partnership,” katanya.

Sidang Komisi Bersama ke-2 RI-Kazakhstan dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama Deputi Perdana Menteri Kazakhstan Serik Zhumangarin di Astana, Senin (11/5/2026).

Forum tersebut sekaligus mengaktifkan kembali mekanisme kerja sama bilateral yang sempat vakum sejak 2013.

Kerja Sama Diperluas hingga Energi dan Digital

Melalui sidang tersebut, Indonesia dan Kazakhstan sepakat memperluas kerja sama di berbagai sektor strategis.

Kerja sama itu mencakup bidang energi, ekonomi digital, kecerdasan buatan, ketahanan pangan, agribisnis, konektivitas, hingga logistik.

Indonesia juga mendorong peningkatan akses pasar bagi produk unggulan nasional seperti minyak kelapa sawit, kopi, produk perikanan, alas kaki, dan makanan olahan.

Pertemuan itu menjadi bagian dari kunjungan kerja Airlangga Hartarto ke kawasan Eurasia pada 10–16 Mei 2026 yang juga mencakup Rusia dan Belarus.

Penulis :
Ahmad Yusuf