
Pantau - Iran dinilai berhasil menunjukkan efektivitas perang asimetris melalui penggunaan kapal kecil cepat, drone boat, dan rudal murah untuk menekan kekuatan militer besar seperti Amerika Serikat dan Israel di Selat Hormuz.
Konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat-Israel disebut menjadi contoh perubahan pola perang modern yang kini tidak lagi bergantung sepenuhnya pada kapal induk atau jet tempur canggih, melainkan pada kemampuan memanfaatkan teknologi murah, jaringan data, dan kondisi geografis strategis.
Strategi “Lebah” Iran di Selat Hormuz
Iran diketahui menerapkan strategi sea denial atau penolakan laut dengan tujuan membuat wilayah perairan menjadi mahal dan berbahaya bagi lawan tanpa harus menguasai laut secara penuh.
Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC mengerahkan armada mosquito fleet berupa ratusan kapal kecil cepat yang dilengkapi roket, ranjau laut, rudal, dan drone untuk melakukan serangan secara kawanan atau swarm attack.
Kapal-kapal kecil tersebut bergerak cepat dan sulit dideteksi radar besar sehingga efektif dimanfaatkan di kawasan sempit seperti Selat Hormuz.
Sejumlah laporan intelijen maritim juga menyebut Iran mulai menggunakan drone boat kamikaze yang menyamar sebagai kapal nelayan untuk menyerang kapal tanker minyak dan kapal logistik.
Serangan tersebut berdampak besar terhadap perdagangan global karena sekitar seperlima distribusi minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap hari.
Harga minyak global dilaporkan sempat melonjak, premi asuransi kapal meningkat, dan ratusan kapal tanker tertahan akibat meningkatnya operasi kawanan Iran.
Indonesia Dinilai Perlu Adaptasi Strategi Militer
Ngasiman menilai pelajaran dari Iran penting bagi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang semakin tidak menentu.
Menurut dia, perang masa depan akan lebih ditentukan oleh kemampuan adaptasi terhadap teknologi murah dan operasi asimetris dibandingkan dominasi persenjataan konvensional.
Indonesia disebut perlu memperkuat kesiapan militer, termasuk strategi pertahanan laut dan pemanfaatan teknologi nirawak untuk menghadapi potensi ancaman serupa di kawasan strategis nasional.
Selain itu, kesiapan alutsista dan personel juga dinilai menjadi faktor penting dalam menghadapi pola konflik modern yang berkembang cepat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





