
Pantau - Dialog Shangri-La ke-23 resmi digelar di Singapura mulai Jumat hingga Minggu dengan fokus utama membahas dampak konflik Timur Tengah terhadap pasar energi global, komitmen Amerika Serikat di Indo-Pasifik, serta ketegangan di Taiwan dan Laut China Selatan.
Forum keamanan tahunan tersebut mempertemukan menteri pertahanan, kepala militer, dan pakar strategi keamanan dari lebih dari 40 negara di kawasan Asia-Pasifik, Eropa, dan Amerika Utara.
Presiden Vietnam To Lam dijadwalkan menyampaikan pidato utama untuk membuka pertemuan yang berlangsung di salah satu hotel ikonik Singapura.
Dihadiri Pejabat Pertahanan Sejumlah Negara
Sejumlah tokoh penting yang hadir dalam dialog itu antara lain Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi, Menteri Pertahanan Australia Richard Marles, serta Menteri Pertahanan Selandia Baru Chris Penk.
Sementara itu, Menteri Pertahanan China Dong Jun diperkirakan kembali absen untuk tahun kedua berturut-turut sehingga mengurangi peluang terjadinya pertemuan tingkat tinggi antara Beijing dan Washington di sela-sela forum.
Menurut laporan South China Morning Post, China diperkirakan hanya mengirim delegasi Tentara Pembebasan Rakyat (People's Liberation Army atau PLA) tingkat rendah sebagai pengganti Dong Jun.
Delegasi China pada Dialog Shangri-La tahun lalu dipimpin oleh Wakil Presiden Universitas Pertahanan Nasional PLA Hu Gangfeng yang berpangkat mayor jenderal.
Sorotan pada Strategi AS dan Posisi China
Pete Hegseth dijadwalkan menyampaikan pidato pada sesi pleno pertama Sabtu mengenai strategi Washington dalam menjaga perdamaian di Indo-Pasifik.
Pidato tersebut diperkirakan akan menjadi perhatian negara-negara sekutu Amerika Serikat yang masih mencermati konsistensi kebijakan keamanan pemerintahan Presiden Donald Trump.
Pada Dialog Shangri-La 2025, Hegseth mengkritik pembangunan militer China dan "taktik zona abu-abu," serta menegaskan bahwa Amerika Serikat "kembali" ke Indo-Pasifik untuk jangka panjang.
Forum tahun ini juga menjadi perhatian karena berlangsung setelah kunjungan penting Trump ke China yang bertujuan menstabilkan hubungan kedua negara.
Negara-negara Asia-Pasifik diperkirakan akan mengamati setiap perubahan sikap delegasi Amerika Serikat dan China, khususnya terkait isu Laut China Selatan, Taiwan, serta arah kebijakan keamanan kedua negara di kawasan.
China mulai mengirim delegasi ke Dialog Shangri-La sejak 2007 meski selama ini memandang forum tersebut sebagai pertemuan Barat yang dipimpin Amerika Serikat.
Sejak itu, Menteri Pertahanan China tercatat menghadiri forum tersebut sebanyak lima kali, yakni pada 2011, 2019, serta berturut-turut pada 2022 hingga 2024.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf
- Editor :
- Aditya Yohan





