HOME  ⁄  Geopolitik

Trump Minta Klausul Uranium dan Selat Hormuz dalam Draf Kesepakatan AS-Iran Direvisi

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Trump Minta Klausul Uranium dan Selat Hormuz dalam Draf Kesepakatan AS-Iran Direvisi
Foto: (Sumber: Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (ANTARA/Xinhua).)

Pantau - Presiden Amerika Serikat Donald Trump ingin memperjelas rincian transfer uranium Iran yang telah diperkaya serta merevisi klausul mengenai pembukaan Selat Hormuz dalam rancangan kesepakatan yang sedang dinegosiasikan antara Washington dan Teheran.

Berdasarkan laporan Axios, Trump berjanji akan mengambil keputusan final terkait situasi dengan Iran, namun hingga kini kedua pihak belum mencapai kesepahaman akhir.

Informasi tersebut berasal dari seorang pejabat senior pemerintahan Trump dan sumber lain yang mengetahui jalannya negosiasi.

Pada Jumat, 29 Mei 2026, Trump menggelar pengarahan intelijen di Washington untuk membahas perkembangan terbaru terkait Iran.

Menurut laporan The New York Times, Trump juga telah mengajukan syarat yang lebih ketat dalam kesepakatan yang sedang dirundingkan dan proposal terbaru itu telah disampaikan kepada Teheran.

Transfer Uranium Jadi Fokus Utama Negosiasi

Rancangan kesepakatan saat ini mencakup komitmen Iran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.

Dalam draf tersebut, para pihak diberikan waktu 60 hari untuk mencapai perjanjian mengenai program nuklir Iran serta pencabutan sanksi Amerika Serikat.

Salah satu pokok pembahasan utama dalam negosiasi adalah persediaan uranium Iran yang telah diperkaya dan pembatasan terhadap pengayaan uranium lebih lanjut.

Trump menginginkan ketentuan mengenai transfer uranium dibuat lebih rinci dan spesifik.

"Yang diinginkan adalah rincian yang lebih spesifik mengenai bagaimana AS menerima material tersebut (uranium yang diperkaya) dan kapan proses itu dilakukan," ungkap seorang pejabat senior pemerintahan Trump.

Gedung Putih Soroti Klausul Selat Hormuz

Selain isu uranium, Gedung Putih juga menginginkan perubahan pada klausul yang mengatur pembukaan Selat Hormuz dalam nota kesepahaman yang sedang disusun.

Menurut laporan, Iran diperkirakan akan menyampaikan tanggapan resminya terhadap proposal terbaru Amerika Serikat dalam waktu sekitar tiga hari.

Hingga saat ini, proses negosiasi masih berlangsung dan belum menghasilkan kesepakatan final antara kedua negara.

Sebelumnya, pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang dilaporkan menewaskan lebih dari 3.000 orang.

Setelah konflik meningkat, Washington dan Teheran mengumumkan gencatan senjata pada 8 April 2026.

Kedua pihak kemudian melanjutkan pembicaraan di Islamabad, namun perundingan tersebut berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan.

Meski tidak ada pengumuman mengenai dimulainya kembali pertempuran, Amerika Serikat mulai memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran sebagai bagian dari tekanan yang tetap dipertahankan selama proses diplomasi berlangsung.

Penulis :
Gerry Eka