HOME  ⁄  Geopolitik

Menhan Jepang Tegaskan Modernisasi Pertahanan Berlanjut, Tolak Tudingan "Militerisme Baru" dari China

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Menhan Jepang Tegaskan Modernisasi Pertahanan Berlanjut, Tolak Tudingan "Militerisme Baru" dari China
Foto: (Sumber: Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi saat memberikan penghormatan kepada bendera dalam inspeksi pasukan di Kementerian Pertahanan, Jakarta, Senin (4/6/2026). (ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/tom).)

Pantau - Menteri Pertahanan Jepang Shinjiro Koizumi menegaskan negaranya akan terus memperkuat kemampuan pertahanan nasional dan kerja sama keamanan di kawasan Indo-Pasifik, sekaligus menolak kritik China yang menyebut kebijakan pertahanan Tokyo sebagai bentuk "militerisme baru".

Pernyataan tersebut disampaikan Koizumi dalam forum keamanan Shangri-La Dialogue yang berlangsung di Singapura pada Minggu, 31 Mei 2026.

Menurut Koizumi, lingkungan keamanan regional saat ini semakin menantang dengan meningkatnya tekanan ekonomi dan militer serta persaingan yang semakin intensif di bidang siber, antariksa, dan informasi.

"Batas antara masa damai dan situasi darurat semakin tidak jelas," ungkapnya.

Jepang Perkuat AI, Siber, dan Teknologi Pertahanan

Jepang saat ini menjalankan program modernisasi pertahanan yang mencakup revisi dokumen utama keamanan nasional, investasi pada kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), pengembangan sistem tanpa awak, penguatan kemampuan siber, serta teknologi antariksa.

Koizumi mempertanyakan tudingan China yang menilai Jepang sedang menuju arah militerisme baru.

"Ada sebuah negara yang memiliki persenjataan nuklir dalam jumlah besar dan pesawat pengebom strategis. Jepang tidak memiliki senjata semacam itu. Namun, Jepang justru dicap sebagai militerisme baru. Bukankah itu aneh?" katanya.

Ia menegaskan reputasi Jepang sebagai negara yang menjunjung perdamaian sejak berakhirnya Perang Dunia II tidak akan dirusak oleh tuduhan yang dianggap tidak berdasar.

Koizumi juga memperingatkan bahwa pembangunan militer yang tidak transparan dapat memicu ketidakpercayaan dan berpotensi menyebabkan salah perhitungan strategis.

Menurutnya, Jepang berkomitmen menjalankan pembaruan pertahanan dengan tingkat transparansi yang tinggi.

Hubungan dengan China Masih Tegang

Meski terdapat perbedaan pandangan, Tokyo menyatakan tetap berkomitmen menjaga dialog dengan Beijing.

Hubungan Jepang dan China memburuk dalam beberapa tahun terakhir setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengisyaratkan kemungkinan dukungan Jepang kepada Amerika Serikat apabila China menyerang Taiwan.

China memandang Taiwan sebagai provinsi yang dapat dipersatukan kembali dengan paksa jika diperlukan.

Koizumi mengaku kecewa karena tidak memiliki kesempatan bertemu Menteri Pertahanan China Dong Jun dalam forum tersebut.

Untuk kedua kalinya secara beruntun, Dong Jun tidak menghadiri Shangri-La Dialogue dan China hanya mengirim delegasi tingkat lebih rendah.

Jepang Perluas Kerja Sama Keamanan Indo-Pasifik

Koizumi juga menyoroti pentingnya menjaga jalur pelayaran strategis tetap terbuka dan aman, termasuk di Selat Hormuz.

Jepang semakin mempererat kerja sama keamanan dengan Amerika Serikat, Australia, Filipina, Inggris, dan negara-negara Asia Tenggara.

Setelah melonggarkan aturan ekspor senjata pada April 2026, Tokyo berencana mengambil peran yang lebih besar dalam kerja sama peralatan dan teknologi pertahanan.

"Perpecahan melemahkan daya tangkal. Persatuan memperkuat daya tangkal," tegasnya.

Pernyataan tersebut menegaskan komitmen Jepang untuk memperkuat pertahanan nasional sekaligus memperluas kemitraan keamanan di tengah dinamika geopolitik yang semakin kompleks di kawasan Indo-Pasifik.

Penulis :
Gerry Eka