
Pantau - Intensitas diplomasi Presiden Prabowo Subianto ke Prancis sepanjang 2026 menjadi sorotan setelah melakukan tiga kunjungan ke Paris hanya dalam lima bulan pertama tahun ini, yakni pada Januari, April, dan Mei, yang mencerminkan pentingnya Prancis dalam agenda strategis Indonesia di bidang pertahanan, ekonomi, dan geopolitik.
Dalam pertemuan dengan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Prabowo mengatakan, "Tahun ini saja saya sudah tiga kali ke Prancis."
Frekuensi kunjungan tersebut dinilai tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga menunjukkan semakin eratnya hubungan bilateral Indonesia dan Prancis dalam berbagai sektor strategis.
Kerja Sama Pertahanan Jadi Prioritas Utama
Salah satu fokus utama hubungan Indonesia dan Prancis adalah kerja sama pertahanan yang telah berkembang sejak Prabowo masih menjabat sebagai Menteri Pertahanan.
Tonggak penting kerja sama itu terjadi pada Februari 2022 ketika Prabowo bertemu Menteri Angkatan Bersenjata Prancis saat itu, Florence Parly.
Pertemuan tersebut menghasilkan lima kesepakatan kerja sama pertahanan, termasuk pembelian 42 unit pesawat tempur Dassault Rafale oleh Indonesia.
Tiga unit pertama Rafale telah diterima Indonesia pada Januari 2026 dan ditempatkan di Lanud Roesmin Nurjadin sebagai bagian dari program modernisasi kekuatan udara TNI Angkatan Udara.
Pengiriman berikutnya dijadwalkan berlangsung pada pertengahan 2026.
Selain Rafale, Indonesia dan Prancis juga menjalin kerja sama pembangunan kapal selam Scorpène Evolved melalui PT PAL Indonesia dan Naval Group.
Proyek tersebut tidak hanya ditujukan untuk memperkuat alat utama sistem persenjataan, tetapi juga mendorong transfer teknologi dan peningkatan kemandirian industri maritim nasional.
Pembangunan kapal selam pertama ditargetkan dimulai pada Juni 2026.
Dalam pertemuan di Istana Elysee, kedua negara juga sepakat memperkuat industri pertahanan melalui peningkatan kapasitas produksi, co-production, dan kolaborasi teknologi persenjataan.
Dorong Penyelesaian IEU-CEPA dan Investasi Baru
Bidang lain yang menjadi fokus utama pembahasan adalah percepatan penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).
Prabowo menempatkan percepatan perundingan IEU-CEPA sebagai salah satu prioritas utama dalam pembicaraan dengan Macron.
Prancis dipandang memiliki posisi strategis sebagai ekonomi terbesar kedua di Uni Eropa setelah Jerman sehingga dukungannya dinilai penting dalam membangun konsensus di antara 27 negara anggota Uni Eropa.
Negosiasi IEU-CEPA sendiri telah berlangsung hampir satu dekade dan masih menyisakan sejumlah isu yang belum terselesaikan.
Sejumlah perusahaan Prancis seperti Eramet, Danone, L'Oréal, dan Michelin telah lebih dahulu beroperasi di Indonesia.
Kunjungan Prabowo kali ini juga menghasilkan empat kesepakatan komersial baru senilai 3,5 miliar dolar AS atau sekitar Rp61,25 triliun.
Kesepakatan tersebut berfokus pada sektor ketahanan energi, perdagangan, dan kerja sama pertahanan.
Bahas Palestina hingga Ketegangan Global
Selain isu bilateral, Prabowo dan Macron turut membahas berbagai isu global, mulai dari konflik Timur Tengah, perang Ukraina, ketegangan di Laut China Selatan, hingga dinamika kawasan Asia Tenggara.
Isu Palestina menjadi salah satu topik yang mendapat perhatian terbesar dalam pertemuan kedua pemimpin.
Prabowo menegaskan bahwa perdamaian di Timur Tengah tidak akan tercapai tanpa keadilan bagi rakyat Palestina.
Indonesia dan Prancis disebut memiliki pandangan yang sejalan terkait konflik di Gaza.
Prabowo juga mengapresiasi langkah Prancis yang mendorong negara-negara Eropa dan Barat untuk mendukung kemerdekaan Palestina.
Sementara itu, Macron menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Indonesia terhadap pengakuan Palestina serta keterlibatan TNI dalam misi perdamaian di Lebanon.
Kedua pemimpin menegaskan komitmen untuk memperkuat kemitraan yang didasarkan pada kepercayaan bersama dan dukungan terhadap multilateralisme.
Keberhasilan diplomasi Indonesia di Prancis dinilai tidak hanya diukur dari frekuensi kunjungan tingkat tinggi, tetapi juga dari realisasi berbagai komitmen konkret di bidang pertahanan, ekonomi, dan geopolitik yang telah disepakati kedua negara.
- Penulis :
- Gerry Eka





