
Pantau - Hizbullah menegaskan tidak akan menerima gencatan senjata yang bersifat sepihak dalam konflik dengan Israel dan menuntut adanya komitmen menyeluruh dari kedua belah pihak untuk menghentikan permusuhan di Lebanon.
Anggota parlemen Hizbullah Hassan Fadlallah menyampaikan pernyataan tersebut dalam wawancara dengan stasiun televisi Al-Manar yang berafiliasi dengan Hizbullah pada Senin (1/6).
Fadlallah mengatakan, "Tidak ada gencatan senjata yang sepihak yang akan bertahan di Lebanon."
Ia menegaskan bahwa tidak akan ada "kembali" ke kondisi yang berlaku sebelum 2 Maret.
Hizbullah Minta Gencatan Senjata Menyeluruh
Menurut Fadlallah, posisi Lebanon saat ini adalah mendorong gencatan senjata penuh yang mencakup wilayah darat, udara, dan laut.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mendorong penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon serta memungkinkan warga yang mengungsi kembali ke desa mereka.
Ia mengatakan posisi tersebut telah disampaikan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam proses perundingan.
Fadlallah juga menekankan bahwa kesepakatan harus mencakup komitmen Israel yang jelas untuk menghentikan serangan dan penghancuran rumah-rumah di wilayah Lebanon selatan.
"Hizbullah akan mematuhi setiap perjanjian setelah Israel berkomitmen untuk melaksanakannya," ungkap Fadlallah.
Pernyataan Muncul Usai Klaim Donald Trump
Pernyataan Hizbullah muncul setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan Israel dan Hizbullah telah sepakat menghentikan serangan satu sama lain melalui komunikasi yang dilakukan oleh pihak perantara.
Trump mengatakan dirinya menerima jaminan bahwa seluruh tembakan akan dihentikan oleh kedua pihak.
Meski demikian, Israel dilaporkan masih terus melancarkan serangan ke Lebanon meskipun gencatan senjata yang mulai berlaku pada 17 April telah disepakati dan kemudian diperpanjang selama 45 hari melalui perundingan tidak langsung yang dimediasi Amerika Serikat.
Fadlallah menambahkan bahwa tekanan dari Iran dan ancaman penghentian perundingan turut memengaruhi perkembangan situasi terbaru.
Menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon, lebih dari 3.400 orang tewas akibat serangan yang terjadi sejak 2 Maret 2026.
- Penulis :
- Aditya Yohan





