
Pantau - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat hampir 190 serangan terhadap fasilitas kesehatan di Lebanon sejak Maret 2026, yang mengakibatkan 128 tenaga kesehatan tewas dan 332 lainnya terluka di tengah konflik yang terus berlangsung di negara tersebut.
Perwakilan WHO di Lebanon, Abdinasir Abubakar, menyampaikan data tersebut dalam pernyataannya di Jenewa pada Selasa waktu setempat.
“Hanya dalam tiga bulan ini, WHO telah memverifikasi hampir 190 serangan terhadap fasilitas kesehatan. Serangan ini telah menewaskan 128 petugas kesehatan dan melukai 332 lainnya,” ungkapnya.
Serangan Terus Berlanjut dalam Sepekan Terakhir
Abubakar menjelaskan bahwa sebanyak 11 serangan terhadap fasilitas kesehatan terjadi dalam sepekan terakhir.
Serangan tersebut menyebabkan empat orang meninggal dunia dan 24 lainnya mengalami luka-luka.
WHO juga masih melakukan verifikasi terhadap laporan serangan udara yang menghantam Rumah Sakit Jabal Amel pada Senin (1/6).
Berdasarkan informasi awal dari Kementerian Kesehatan Lebanon, serangan itu menyebabkan sedikitnya 86 orang terluka.
Konflik Lebanon Memasuki Periode Paling Mematikan
Menurut WHO, tiga bulan terakhir menjadi salah satu periode paling mematikan bagi Lebanon sejak konflik kembali meningkat pada Oktober 2023.
Data Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan korban tewas akibat serangan udara Israel sepanjang periode 2 Maret hingga 1 Juni 2026 mencapai 3.433 orang.
Dalam periode yang sama, sebanyak 10.395 orang dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan tersebut.
Laporan WHO muncul di tengah meningkatnya perhatian internasional terhadap dampak konflik terhadap layanan kesehatan dan keselamatan tenaga medis di Lebanon.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





