HOME  ⁄  Geopolitik

Rusia Tegaskan Dukungan kepada Kuba di Tengah Tekanan AS dan Krisis Energi yang Memburuk

Oleh Shila Glorya
SHARE   :

Rusia Tegaskan Dukungan kepada Kuba di Tengah Tekanan AS dan Krisis Energi yang Memburuk
Foto: Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov di New Delhi, India, dalam KTT BRICS 15/5/2026 (sumber: Anadolu Agency)

Pantau - Rusia kembali menegaskan solidaritas dan dukungannya kepada Kuba di tengah tekanan eksternal yang disebut semakin berat terhadap rakyat negara tersebut, sebagaimana disampaikan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dalam telegram ucapan selamat ulang tahun ke-95 kepada mantan Presiden Kuba Raul Castro pada Rabu, 3 Juni 2026.

Lavrov menyatakan, "Di tengah tekanan eksternal yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap rakyat Kuba, kami sekali lagi menyampaikan solidaritas dan dukungan kami yang teguh," ungkapnya.

Ia menegaskan Rusia akan terus berdiri bersama Kuba dalam menghadapi berbagai tantangan internasional yang dihadapi negara Karibia tersebut.

Rusia dan Kuba Perkuat Kerja Sama

Lavrov mengatakan Rusia dan Kuba akan terus bekerja "bersama-sama" untuk memperkuat kerja sama kedua negara.

Menurutnya, penguatan kerja sama akan dilakukan melalui hubungan bilateral maupun berbagai forum internasional.

Ia menyebut langkah tersebut bertujuan membangun tatanan dunia multipolar yang lebih adil.

Dalam pesannya, Lavrov juga menyampaikan penghargaan pribadi kepada Raul Castro.

Ia mengenang sejumlah pertemuan yang pernah dilakukan dengan mantan pemimpin Kuba tersebut sebagai pengalaman yang berkesan.

Lavrov turut mengingat berbagai percakapan yang jujur dan bermakna yang pernah dijalani bersama Castro.

Selain menyampaikan ucapan selamat ulang tahun, Lavrov mendoakan Raul Castro agar selalu sehat, tetap memiliki ketabahan yang tidak pernah surut, serta memperoleh kesejahteraan.

Tekanan AS Perburuk Kondisi Kuba

Pernyataan dukungan Rusia disampaikan di tengah meningkatnya tekanan politik dan ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba dalam beberapa bulan terakhir.

Pada Januari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani perintah eksekutif baru terkait Kuba.

Kebijakan tersebut memberlakukan tarif terhadap impor dari negara-negara yang memasok minyak ke Kuba.

Trump juga mengumumkan keadaan darurat nasional dengan alasan adanya dugaan ancaman Kuba terhadap keamanan nasional Amerika Serikat.

Kebijakan itu disebut memperburuk kondisi pasokan energi di Kuba yang telah menghadapi berbagai kesulitan ekonomi.

Kelangkaan bahan bakar di Kuba semakin parah dan berdampak langsung pada sektor pembangkit listrik.

Keterbatasan bahan bakar juga mengganggu sektor transportasi, produksi pangan, layanan kesehatan, serta sektor pendidikan di negara tersebut.

Penulis :
Shila Glorya