
Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan krisis energi yang semakin memburuk di Kuba telah berdampak luas terhadap layanan penting, mulai dari sektor kesehatan, produksi pangan, hingga distribusi bantuan kemanusiaan.
Peringatan tersebut disampaikan Juru Bicara PBB Stephane Dujarric dalam konferensi pers pada Kamis (4/6).
Dujarric mengatakan dampak gabungan krisis energi akibat perintah eksekutif Amerika Serikat, berbagai sanksi tambahan, serta bencana alam telah memperburuk kondisi di negara Karibia tersebut.
"Seluruh layanan dasar, mulai dari air bersih dan sanitasi hingga produksi pangan dan sektor kesehatan, terdampak oleh kurangnya bahan bakar dan aliran listrik," ungkap Dujarric.
Lebih dari 100 Ribu Operasi Ditunda
PBB mencatat krisis energi telah mengganggu layanan kesehatan secara signifikan.
Dujarric mengungkapkan lebih dari 100.000 operasi medis terpaksa ditunda akibat kekurangan obat-obatan dan perlengkapan kesehatan.
"Lebih dari 100.000 operasi telah ditunda karena kekurangan obat-obatan dan perlengkapan medis yang dibutuhkan," ujarnya.
Selain layanan kesehatan, krisis juga memengaruhi akses masyarakat terhadap air bersih, sanitasi, serta pasokan pangan.
Distribusi Bantuan Kemanusiaan Ikut Terhambat
PBB bersama mitra kemanusiaannya saat ini memiliki rencana bantuan yang ditujukan bagi sekitar 2 juta warga Kuba.
Namun, keterbatasan bahan bakar membuat proses distribusi bantuan mengalami hambatan serius.
"Krisis energi juga membatasi kemampuan kami untuk mengirimkan bantuan yang telah dijanjikan, dengan puluhan kontainer makanan dan perlengkapan medis masih berada di pelabuhan karena kekurangan bahan bakar untuk mengeluarkannya dari pelabuhan," kata Dujarric.
Kuba dalam beberapa bulan terakhir menghadapi krisis bahan bakar dan pemadaman listrik berkepanjangan setelah Amerika Serikat memperketat pembatasan ekonomi, termasuk embargo minyak yang diberlakukan pada Januari 2026.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf





