HOME  ⁄  Geopolitik

Analis Turki Sebut Konflik Timur Tengah Picu Inflasi Berkepanjangan di Negara Berkembang

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Analis Turki Sebut Konflik Timur Tengah Picu Inflasi Berkepanjangan di Negara Berkembang
Foto: (Sumber : Foto ini menunjukkan antrean sejumlah kendaraan di sebuah pompa bensin di Ankara, Turki, Minggu (22/2/2026). ANTARA/Xinhua/Mustafa Kaya/aa..)

Pantau - Analis ekonomi yang berbasis di Istanbul, Murat Tufan, menilai konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah telah memicu gangguan rantai pasokan global dan kenaikan biaya energi yang berujung pada inflasi berkepanjangan di negara-negara berkembang.

Tufan mengatakan dampak konflik antara Iran dan Amerika Serikat yang telah memasuki hari ke-100 pada 7 Juni 2026 menyebabkan lonjakan harga berbagai komoditas dan menambah tekanan terhadap perekonomian global.

Gangguan Selat Hormuz Dorong Kenaikan Harga

Menurut Tufan, keterlambatan kapal di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan biaya logistik dan harga kebutuhan pokok.

“Biaya pupuk dan pengiriman terus meningkat akibat keterlambatan kapal di Selat Hormuz, sebuah hal krusial bagi perdagangan global, yang pada akhirnya mendongkrak harga akhir barang kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.

Ia menjelaskan negara-negara berkembang sangat rentan terhadap inflasi impor dan gejolak harga global karena ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan energi dan komoditas dari pasar internasional.

Tufan menambahkan persepsi masyarakat bahwa harga barang akan terus naik turut memperburuk situasi ekonomi.

Perubahan Perilaku Konsumen dan Tantangan Bank Sentral

Ia mengungkapkan masyarakat mulai mengubah pola konsumsi dengan membeli kebutuhan pokok lebih cepat dan memanfaatkan fasilitas kredit untuk mengantisipasi kenaikan harga berikutnya.

Kondisi tersebut, menurut Tufan, membuka peluang bagi pelaku usaha untuk menaikkan harga secara sewenang-wenang sehingga memperkuat tekanan inflasi.

Gelombang inflasi terbaru juga disebut membuat banyak bank sentral menghadapi tantangan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Tufan menilai instrumen moneter konvensional seperti kenaikan suku bunga tidak sepenuhnya efektif menghadapi inflasi yang dipicu gangguan pasokan global.

Ia menjelaskan bank sentral tidak memiliki kendali langsung terhadap harga energi maupun komoditas di pasar internasional sehingga ruang intervensi menjadi terbatas.

Penulis :
Aditya Yohan