HOME  ⁄  Geopolitik

Pakar University of Liverpool Nilai Pergantian PM Tak Akan Ubah Sikap Inggris terhadap Ukraina

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Pakar University of Liverpool Nilai Pergantian PM Tak Akan Ubah Sikap Inggris terhadap Ukraina
Foto: (Sumber : Ilustrasi - Big Ben yang terletak di sebelah utara Istana Westminster, London, Inggris Raya. ANTARA/Anadolu/py/am..)

Pantau - Pergantian perdana menteri di Inggris diperkirakan tidak akan membawa perubahan signifikan terhadap kebijakan negara itu terkait Ukraina karena masih kuatnya konsensus politik yang mendukung posisi pemerintah saat ini.

Dosen senior politik Inggris dari University of Liverpool, Andrew Roe-Crines, mengatakan Partai Buruh tetap sejalan dengan Uni Eropa dalam menyikapi konflik Ukraina.

“Partai Buruh tampaknya berjalan seirama dengan Uni Eropa dalam isu Ukraina. Starmer terus merangkul Volodymyr Zelensky dengan dukungan partainya dan oposisi saat ini. Hanya Reform UK yang menawarkan pendekatan yang mendekati perubahan arah tersebut,” ungkap Roe-Crines.

Menurutnya, luasnya dukungan politik terhadap kebijakan tersebut membuat peluang perubahan arah dalam waktu dekat sangat kecil.

“Karena dogmatisme ini, kecil kemungkinan kita akan melihat perubahan arah. Namun, demi kepentingan perdamaian, harus ada pelunakan bahasa terhadap Rusia,” ujarnya.

Roe-Crines menilai persoalan Ukraina pada akhirnya merupakan urusan internal Rusia dan menganggap pendekatan yang diambil Inggris serta Uni Eropa belum sepenuhnya konsisten.

“Pada akhirnya, persoalan ini merupakan isu internal yang harus dikelola oleh Rusia sendiri. Namun, Inggris dan Uni Eropa tampaknya bertekad terus mempertahankan pandangan bahwa Ukraina dapat berdiri terpisah. Saya yakin nada mereka akan berbeda jika ada wilayah di Inggris yang menginginkan kemerdekaan,” katanya.

Roe-Crines juga berpendapat pemerintah Inggris sebaiknya mengambil pendekatan yang lebih lunak terhadap Rusia dalam upaya mendorong perdamaian.

“Karena itu, jalan terbaik bagi pemerintah Inggris mana pun saat ini adalah menyerahkan persoalan Ukraina kepada Rusia dan berbicara dengan lebih lunak kepada Presiden Vladimir Putin serta rakyat Rusia,” ungkapnya.

Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pada 22 Juni 2026 mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh yang sedang berkuasa.

Starmer menyatakan akan tetap menjabat sebagai perdana menteri hingga pemimpin baru partai terpilih.

Proses pemilihan ketua baru Partai Buruh dijadwalkan dimulai pada 9 Juli dan rampung sebelum parlemen kembali bersidang pada September 2026.

Di tengah proses pergantian kepemimpinan tersebut, Roe-Crines menilai arah kebijakan Inggris terhadap Ukraina akan tetap dipertahankan karena dukungan mayoritas kekuatan politik masih berada pada jalur yang sama.

Penulis :
Ahmad Yusuf