
Pantau - Hamas mengecam rencana pemerintah Israel membangun 12.000 unit rumah baru di permukiman Yahudi di Tepi Barat dengan menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah berbahaya yang memperburuk pendudukan atas wilayah Palestina.
Hamas Nilai Rencana Permukiman Berbahaya
Dalam pernyataan yang disampaikan pada Selasa, Hamas mengkritik kesepakatan antara pemerintah Israel dan Administrasi Sipil untuk Yudea dan Samaria terkait pembangunan permukiman baru tersebut.
“Hamas menyebut kesepakatan antara pemerintah pendudukan Zionis yang ekstremis dan Dewan Permukiman di Tepi Barat utara untuk membangun 12.000 unit permukiman baru, serta mengalokasikan 8 miliar shekel (sekitar Rp35,2 triliun) bagi infrastruktur permukiman, sebagai kesepakatan berbahaya dan kriminal,” demikian pernyataan Hamas.
Menurut Hamas, kebijakan itu merupakan bentuk eskalasi perang Israel di Tepi Barat yang bertujuan menguasai wilayah, merampas tanah, serta mengusir warga Palestina dari tempat tinggal mereka.
Permukiman Jadi Sorotan Komunitas Internasional
Perluasan permukiman Israel di Tepi Barat selama ini menjadi salah satu hambatan utama dalam hubungan Israel dengan komunitas internasional maupun Otoritas Palestina.
Warga Palestina memandang pembangunan permukiman tersebut sebagai bentuk pendudukan atas wilayah mereka sekaligus penghambat proses perdamaian.
Pada Desember 2016, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengadopsi Resolusi 2334 yang menuntut Israel menghentikan aktivitas pembangunan permukiman.
Namun, Israel tidak mematuhi resolusi tersebut dan pada Desember 2025 Dewan Keamanan Israel menyetujui pembentukan 19 permukiman baru di berbagai wilayah Tepi Barat.
- Penulis :
- Aditya Yohan





