
Pantau - Pemerintah Korea Utara menolak peringatan Amerika Serikat terkait dugaan ancaman siber dari Pyongyang dan menyebut tuduhan tersebut sebagai upaya merusak citra negara itu, sebagaimana dilaporkan KCNA yang dikutip RIA Novosti dari Moskow, Selasa.
Korut Sebut Tuduhan Bermuatan Politik
Sebelumnya, Badan Keamanan Federal AS (FBI), Departemen Luar Negeri AS, dan mitra dari sejumlah negara mengeluarkan peringatan bersama mengenai dugaan ancaman dari pakar teknologi informasi Korea Utara.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Korea Utara membantah tuduhan tersebut dan menilai langkah itu merupakan propaganda politik untuk mencoreng reputasi Pyongyang.
“AS dan sekutunya, dengan mengangkat apa yang disebut ancaman siber dari kami, menerbitkan peringatan bersama untuk merusak citra negara kami,” kata juru bicara Kemlu Korut.
Ia juga menyatakan klaim yang mengaitkan negaranya dengan kelompok pemantau sanksi multilateral merupakan penyebaran informasi palsu.
Pyongyang Kritik Kebijakan Siber Amerika Serikat
Kementerian Luar Negeri Korea Utara menilai kebijakan Amerika Serikat telah menjadikan ruang siber sebagai arena konfrontasi dan perang rahasia.
Pyongyang juga menyatakan operasi siber dalam latihan militer AS dan sekutunya merupakan bagian dari persiapan perang.
Korut menegaskan tuduhan Amerika Serikat mengenai ancaman siber dari negara lain tidak berdasar dan hanya dijadikan alasan untuk membenarkan tekanan ilegal terhadap negara berdaulat.
Menurut Korea Utara, Amerika Serikat justru memonopoli sumber daya utama di ruang siber dan memiliki kemampuan siber terbesar di dunia.
- Penulis :
- Aditya Yohan



