
Pantau - Pemerintah Indonesia mengecam keras serangan militer Israel ke Gaza karena dinilai menghambat implementasi rencana perdamaian Gaza serta memperburuk penderitaan rakyat Palestina.
Indonesia Serukan Penghentian Serangan
Kementerian Luar Negeri RI menyatakan serangan terhadap warga sipil dan infrastruktur sipil merupakan pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
“Tindakan yang dilakukan secara sengaja menghambat implementasi Gaza Peace Plan, dan memperburuk penderitaan rakyat Palestina,” kata Kementerian Luar Negeri RI.
Indonesia menyerukan kepada Israel sebagai pihak dalam kesepakatan gencatan senjata agar segera menghentikan operasi militernya secara permanen dan memenuhi seluruh komitmen sesuai perjanjian gencatan senjata yang sejalan dengan hukum internasional.
Pemerintah Indonesia juga menyambut baik laporan bahwa Hamas dan faksi-faksi Palestina lainnya telah menerima peta jalan implementasi fase kedua rencana perdamaian Gaza sesuai Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 (2025).
“Hal ini merupakan langkah penting untuk proses penyelesaian konflik,” kata Kemlu RI.
Indonesia turut meminta seluruh pihak menjamin pelindungan penuh terhadap warga sipil, tenaga medis, dan pekerja kemanusiaan serta memastikan penyaluran bantuan kemanusiaan berlangsung aman, cepat, dan tanpa hambatan.
Situasi Kemanusiaan di Gaza Memburuk
Indonesia kembali menegaskan komitmennya mendukung proses politik yang kredibel untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina berdasarkan Solusi Dua Negara sesuai resolusi PBB dan kesepakatan internasional.
Serangan terbaru Israel pada Minggu (2/8) dilaporkan menewaskan sedikitnya 18 warga Palestina, termasuk tiga anak dan seorang bayi yang belum lahir, serta melukai sejumlah warga lainnya di Jalur Gaza.
Serangan itu terjadi dua hari setelah diumumkannya kesepakatan implementasi fase berikutnya gencatan senjata Gaza yang telah berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Menurut pejabat Palestina, pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata telah menyebabkan 1.230 warga Palestina meninggal dunia dan 4.076 lainnya mengalami luka-luka.
Perang yang berlangsung sejak 8 Oktober 2023 itu juga dilaporkan telah menewaskan lebih dari 73.000 warga Palestina, melukai lebih dari 174.000 orang, menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza, serta menimbulkan kebutuhan biaya rekonstruksi yang diperkirakan mencapai sekitar 70 miliar dolar AS.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf



