HOME  ⁄  Geopolitik

Polisi Korea Selatan Menggerebek Kantor Starbucks Terkait Dugaan Skandal Kampanye Pemasaran

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Polisi Korea Selatan Menggerebek Kantor Starbucks Terkait Dugaan Skandal Kampanye Pemasaran
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Logo Starbucks. FOTO ANTARA/Rosa Panggabean/aa..)

Pantau - Kepolisian Korea Selatan menggerebek kantor pusat Starbucks Korea pada Rabu terkait dugaan penghinaan melalui kampanye pemasaran yang dinilai membangkitkan kenangan kelam atas penumpasan militer terhadap Pemberontakan Demokrasi 18 Mei 1980 di Gwangju.

Penggeledahan dilakukan sebagai bagian dari penyelidikan terhadap promosi bertajuk “Tank Day” yang digelar bertepatan dengan peringatan gerakan demokratisasi tersebut.

Kampanye itu menuai kritik karena dianggap mencemarkan nama baik para korban penindasan militer dan keluarga yang ditinggalkan.

Penggerebekan dilakukan setelah kelompok masyarakat sipil melaporkan Ketua Shinsegae Group Chung Yong-jin atas dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik terhadap para korban pemberontakan.

E-Mart, anak usaha utama Shinsegae Group, merupakan pemegang saham pengendali Starbucks Korea.

Polisi Dalami Dugaan Unsur Kesengajaan

Surat perintah penggeledahan dan penyitaan mencantumkan dugaan bahwa Starbucks Korea telah menghina para pejuang gerakan prodemokrasi.

Polisi memulai penyelidikan pada Mei 2026 atas dugaan pencemaran nama baik setelah menemukan kelemahan dalam investigasi internal perusahaan terhadap kampanye tersebut.

Promosi itu kemudian dibatalkan tidak lama setelah diluncurkan menyusul gelombang kritik dari publik.

Penyidik kini mendalami apakah para pejabat perusahaan sengaja merancang kampanye tersebut dengan tujuan menghina pihak-pihak yang terlibat dalam gerakan prodemokrasi.

Kampanye Picu Kontroversi Nasional

Kontroversi bermula dari promosi diskon paket tumbler bertajuk “Tank” yang disertai slogan, “Letakkan di meja dengan bunyi 'Tak!'”

Kata “tank” dinilai mengingatkan masyarakat pada kendaraan lapis baja yang digunakan militer saat menumpas aksi demonstrasi prodemokrasi di Gwangju.

Sementara itu, kata “Tak” juga dikritik karena mengingatkan sebagian masyarakat pada Park Jong-cheol, aktivis mahasiswa yang meninggal akibat penyiksaan polisi pada 1987 dan kemudian menjadi simbol gerakan demokratisasi Korea Selatan.

Menyusul kontroversi tersebut, pimpinan Starbucks Korea diberhentikan dari jabatannya.

Ketua Shinsegae Group Chung Yong-jin juga telah menyampaikan permintaan maaf atas kampanye pemasaran tersebut.

Penulis :
Aditya Yohan