HOME  ⁄  Geopolitik

AS dan Israel Bahas Perbedaan Jadwal Pelaksanaan Rencana Perdamaian Gaza

Oleh Arian Mesa
SHARE   :

AS dan Israel Bahas Perbedaan Jadwal Pelaksanaan Rencana Perdamaian Gaza
Foto: Arsip foto - Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Mike Waltz (sumber: Anadolu)

Pantau - Amerika Serikat dan Israel tengah membahas perbedaan terkait mekanisme serta jadwal pelaksanaan rencana perdamaian untuk Jalur Gaza, meski kedua negara disebut tetap memiliki tujuan yang sama.

Duta Besar AS untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Mike Waltz mengatakan perbedaan antara Washington dan Israel terutama menyangkut urutan tahapan serta waktu pelaksanaan rencana tersebut.

Netanyahu Persoalkan Tahapan Rencana Gaza

Pada Minggu, Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu mengumumkan bahwa Israel menolak rencana 15 poin Dewan Perdamaian atau Board of Peace untuk Jalur Gaza.

Netanyahu juga menyatakan militer Israel tidak akan meninggalkan wilayah tersebut sampai kelompok Palestina Hamas dilucuti sepenuhnya.

Menurut The New York Times, para pejabat Hamas meyakini Israel masih bekerja sama dengan Dewan Perdamaian terkait Gaza.

Waltz menjelaskan bahwa keberatan Netanyahu berkaitan dengan tahapan dalam pelaksanaan rencana tersebut.

“Kepala Otoritas Netanyahu memiliki persoalan dengan beberapa tahapan dalam urutan ini. Ini menyangkut urutan dan waktu pelaksanaan,” ungkap Waltz.

Waltz menegaskan AS dan Israel tetap mempunyai tujuan yang sama meskipun berbeda mengenai sejumlah rincian pelaksanaan rencana Gaza.

“Kami memiliki tujuan yang sama. Kami sedang membahas sejumlah perincian, dan terkadang, Anda tahu, bahkan teman, keluarga, sepupu, dan sekutu pun memiliki perbedaan pendapat. Saat ini, kami memiliki perbedaan pendapat mengenai beberapa perincian dan waktu pelaksanaannya,” kata Waltz.

Gencatan Senjata Berlaku sejak Oktober 2025

Sebelumnya, Israel dan Hamas sepakat melaksanakan tahap pertama rencana perdamaian yang diajukan Presiden AS Donald Trump pada 9 Oktober 2025.

Kesepakatan tersebut dicapai melalui mediasi Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turkiye.

Sehari setelah kesepakatan, yakni pada 10 Oktober 2025, gencatan senjata mulai berlaku di Jalur Gaza.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, pasukan Israel akan mundur ke garis yang disebut “Garis Kuning”.

Namun, hingga berita ini ditulis, pasukan Israel masih menguasai lebih dari 50 persen wilayah Jalur Gaza.

Penulis :
Arian Mesa