HOME  ⁄  Geopolitik

Anak-Anak Gaza Berenang untuk Menemukan Kembali Keceriaan Masa Kecil yang Hilang akibat Perang

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Anak-Anak Gaza Berenang untuk Menemukan Kembali Keceriaan Masa Kecil yang Hilang akibat Perang
Foto: (Sumber :Anak-anak bermain dalam acara renang, dengan sekitar 1.300 anak berpartisipasi, di sebuah pantai di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, pada 21 Agustus 2026. ANTARA/XInhua/Rizek Abdeljawad.)

Pantau - Anak-anak di Jalur Gaza mengikuti kegiatan renang Swim With Gaza di pantai Khan Younis untuk mendapatkan kembali ruang bermain, belajar berenang, dan merasakan keceriaan masa kecil setelah bertahun-tahun hidup dalam kondisi perang.

Camelia Hadi yang berusia tujuh tahun menjadi salah satu anak yang mengikuti kegiatan tersebut setelah keluarganya kehilangan rumah dan harus mengungsi lebih dari 20 kali sejak perang dimulai pada Oktober 2023.

"Ketika berada di sini, saya merasa seperti anak-anak pada umumnya. Saya tertawa, bermain, dan belajar berenang. Saya berharap kami selalu bisa ke laut dan hidup tanpa rasa takut," katanya.

Kondisi perang membuat Hadi yang masih anak-anak harus ikut membantu keluarganya mendapatkan kebutuhan sehari-hari, termasuk air dan roti.

Ribuan Anak Gaza Belajar Berenang

Swim With Gaza digelar Akademi Renang Tantish yang berbasis di Gaza dan berlangsung hingga akhir Agustus 2026 untuk memberikan kegiatan olahraga serta rekreasi kepada anak-anak.

Kegiatan tersebut juga ditujukan membantu anak-anak mengembangkan keterampilan berenang sekaligus mendapatkan kembali rasa normal setelah menghadapi kondisi perang.

Farah Hassan Abu Halima yang berusia 11 tahun mengaku sempat takut dan cemas sebelum mengikuti kegiatan renang tersebut.

"Awalnya, saya merasa takut dan cemas, tetapi ketika mendengar tentang kursus-kursus tersebut, saya terdorong untuk mendaftar. Ketika tiba di sana, saya mendapati suasana yang luar biasa. Para pelatih renang dan kegiatan-kegiatan yang ada membuat kami bahagia dan membangkitkan semangat kami," kata Halima.

Kepala Akademi Renang Tantish, Amjad Tantish, mengatakan lebih dari 2.500 anak telah belajar berenang sejak musim kegiatan dimulai pada Juni 2026.

Pekan Swim With Gaza juga menarik peserta di puluhan lokasi di berbagai negara sebagai bentuk solidaritas terhadap anak-anak Gaza.

"Latihan renang ini bukan hanya soal olahraga. Kegiatan ini memberikan anak-anak kesempatan untuk bermain, bersenang-senang, dan melepaskan diri sejenak dari kondisi yang berat di sekitar mereka," kata Tantish.

Keterampilan berenang juga dinilai memiliki manfaat praktis bagi anak-anak Gaza karena banyak dari mereka menghabiskan waktu di dekat laut.

Inisiatif tersebut sekaligus memberikan penghormatan kepada enam instruktur renang yang tewas selama perang, termasuk saudara laki-laki Tantish.

Perang Membebani Kondisi Psikologis Anak Gaza

Kantor media pemerintah Gaza yang dikelola Hamas mencatat pada Juli 2026 bahwa lebih dari 21.500 anak Palestina tewas sejak Oktober 2023, sementara banyak lainnya terluka, menjadi yatim piatu, atau mengungsi.

Direktur Rumah Sakit Jiwa Gaza Abdullah al-Jamal menyebut kondisi psikologis anak-anak terdampak perang berada dalam situasi sangat parah.

"Anak-anak merasa tidak aman dan takut, yang berdampak negatif terhadap kehidupan mereka serta berisiko menimbulkan trauma dan gangguan jangka panjang," ungkap al-Jamal.

Survei pada 2024 menunjukkan 96 persen anak-anak dari rumah tangga yang disurvei di Gaza merasa kematian sudah dekat, sedangkan 92 persen kesulitan menerima kenyataan baru yang mereka hadapi.

Ismail Qudaih yang berusia 12 tahun mengatakan kegiatan berenang membuatnya bisa melupakan sejenak kenangan akibat perang yang merenggut nyawa ibu dan tiga saudara kandungnya.

"Ketika saya masuk ke dalam air, saya merasa berbeda. Untuk sementara, saya berhenti memikirkan perang dan segala hal yang menimpa keluarga saya. Saya bisa berenang, bermain, dan tertawa bersama anak-anak lainnya," ujarnya.

Ayah Ismail, Ibrahim Qudaih, mengatakan perubahan paling berarti baginya adalah melihat putranya kembali tersenyum dan menikmati waktu bermain.

"Anak-anak di Gaza membutuhkan tempat di mana mereka bisa merasa aman dan sekadar menjadi anak-anak. Mereka perlu bermain, berolahraga, tertawa, dan bertemu dengan anak-anak lain. Hal-hal ini mungkin tampak kecil, tetapi bagi seorang anak yang telah kehilangan ibu dan saudara-saudaranya, hal-hal tersebut dapat membuat perbedaan yang sangat besar," imbuh sang ayah.

Penulis :
Aditya Yohan