HOME  ⁄  Nasional

Anak Korban Gempa Manggarai Timur Alami Trauma, Layanan Psikososial Perlu Dimasifkan

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Anak Korban Gempa Manggarai Timur Alami Trauma, Layanan Psikososial Perlu Dimasifkan
Foto: (Sumber :Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi (empat kiri) menyerahkan bantuan kebutuhan spesifik perempuan dan anak secara simbolis kepada Kepala Dinas PPPA Kabupaten Manggarai Timur Pranata Kristiani Agas (tiga kanan) di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Rabu (26/8/2026). ANTARA/HO-KemenPPPA.)

Pantau - Masyarakat terdampak gempa bermagnitudo 7,7 di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), membutuhkan layanan psikososial untuk memulihkan trauma pascagempa yang terjadi pada 15 Agustus 2026.

Kepala Dinas PPPA Kabupaten Manggarai Timur Pranata Kristiani Agas menyampaikan kebutuhan tersebut saat bertemu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi di Kantor BPBD Kabupaten Manggarai, Rabu (26/8/2026).

"Bapak-Ibu yang ada di sini selain bagaimana pemenuhan kebutuhan perempuan, anak, dan kelompok rentan, kami berharap juga didukung untuk layanan psikososial," kata Kristiani.

Kristiani mengatakan dampak psikologis gempa terlihat pada anak-anak yang merasa takut ketika malam tiba dan lebih nyaman berada di posko pengungsian daripada kembali ke rumah.

"Ada seorang anak, bahkan dia sampai bilang begini, Mama, saya tidak mau pulang, saya lebih nyaman di posko, dan itu hampir dialami oleh seluruh anak-anak yang ada di posko, terutama posko-posko yang berada di sekitar pantai. Mereka tidak takut gempanya. Mereka takut tsunami," kata Kristiani.

Trauma tersebut juga terlihat ketika psikolog dan konselor meminta anak-anak menggambar karena banyak dari mereka memilih laut sebagai objek gambar.

"Bahkan, ketika psikolog kami, konselor kami meminta untuk anak-anak menggambar, banyak pilihan menggambar laut. Jadi mereka gambar laut dan orang tua dan anaknya," kata dia.

Kristiani menilai layanan psikososial bagi masyarakat terdampak perlu dimasifkan karena kondisi geologi Flores membuat wilayah tersebut rentan mengalami gempa.

"Sampai kapanpun dengan keadaan geologi Flores yang seperti ini, gempa terus akan berlanjut. Bantu kami untuk sama-sama mengedukasi ruang publik bahwa kita sudah mulai harus bersahabat dengan gempa," kata Kristiani.

Menteri PPPA Arifah Fauzi mendorong mahasiswa Psikologi yang sedang menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk didatangkan ke NTT guna membantu memberikan layanan psikososial secara berkelanjutan kepada masyarakat terdampak.

"Bagaimana kita bisa memfollow up ini, terutama psikolog-psikolog mungkin yang KKN bisa dengan naik (pesawat) Hercules. Mereka KKN tiga bulan di sini, dibagi dari seluruh kampus di Indonesia. Karena, ini tidak bisa sebulan, dua bulan, dan itu berkelanjutan," kata Arifah.

Dorongan tersebut diarahkan agar pemulihan psikologis korban, khususnya perempuan, anak, dan kelompok rentan, dapat berlangsung dalam jangka waktu yang memadai setelah bencana.

Penulis :
Ahmad Yusuf