HOME  ⁄  Geopolitik

Tinjauan Independen Nilai Stimulus COVID-19 Selandia Baru Dipertahankan Terlalu Lama

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Tinjauan Independen Nilai Stimulus COVID-19 Selandia Baru Dipertahankan Terlalu Lama
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Pasar Rakyat sebagai upaya pemulihan ekonomi yang dilakukan oleh pelaku UMKM dan pengusaha wahana hiburan pasca pandemi COVID-19. (ANTARAFOTO).)

Pantau - Bank Sentral Selandia Baru dinilai terlalu lambat menarik stimulus kebijakan moneter setelah perekonomian negara tersebut pulih lebih kuat dari perkiraan seusai pandemi COVID-19, berdasarkan tinjauan independen yang dirilis Selasa, 22 September 2026.

Laporan evaluasi yang dirilis Menteri Keuangan Selandia Baru Nicola Willis tersebut mengkaji keputusan kebijakan moneter sejak 1 Januari 2020 hingga 31 Desember 2022.

Tinjauan menemukan respons awal bank sentral terhadap pandemi dinilai tepat dan efektif, tetapi stimulus kebijakan moneter dipertahankan terlalu lama.

Kajian dilakukan Profesor Athanasios Orphanides dari Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat, bersama mantan Wakil Gubernur Bank Sentral Selandia Baru David Archer.

Stimulus Berkepanjangan Dinilai Picu Siklus Ekonomi

Pemerintah Selandia Baru menyatakan tinjauan tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi pelajaran yang dapat digunakan dalam meningkatkan respons terhadap guncangan ekonomi pada masa mendatang.

Willis mengatakan stimulus berkepanjangan ketika perekonomian telah mengalami overheating turut menyebabkan siklus boom-bust yang merugikan dan membutuhkan biaya tinggi.

Inflasi tercatat mencapai 7,3 persen, sementara tingkat pengangguran turun ke kondisi yang oleh peninjau digambarkan sebagai “level terendah historis yang tidak berkelanjutan”.

Upaya mengendalikan inflasi kemudian membutuhkan pengetatan kebijakan moneter secara signifikan yang meningkatkan tingkat pengangguran dan menghambat pertumbuhan.

“Pandemi COVID-19 merupakan guncangan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Fenomena ini telah memberikan beberapa pelajaran pahit bagi Selandia Baru,” ujar Willis.

Bank Sentral Akan Pelajari Hasil Tinjauan

Rekomendasi dalam laporan tersebut berfokus pada penguatan proses pengambilan keputusan kebijakan moneter ketika menghadapi ketidakpastian.

Gubernur Bank Sentral Selandia Baru Anna Breman mengatakan para pejabat akan mempelajari laporan independen tersebut secara cermat.

Temuan dalam laporan juga akan dimanfaatkan untuk membantu menentukan kebijakan dalam menghadapi kondisi ekonomi pada masa mendatang.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026