HOME  ⁄  Geopolitik

Pergerakan Houthi di Pesisir Barat Yaman Memicu Kekhawatiran Baru di Jalur Strategis Bab al-Mandab

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Pergerakan Houthi di Pesisir Barat Yaman Memicu Kekhawatiran Baru di Jalur Strategis Bab al-Mandab
Foto: (Sumber :Peta Selat Bab Al-Mandab yang menghubungkan Laut Merah dan Laut Arab. (Norman Enstein/Wikimedia Commons).)

Pantau - Pergerakan kelompok Ansar Allah atau Houthi ke pesisir barat Yaman dalam sebulan terakhir memunculkan dinamika baru dalam konflik karena wilayah tersebut berdekatan dengan Selat Bab al-Mandab, salah satu jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Arab.

Perkembangan tersebut terjadi di tengah perbedaan kepentingan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) serta dinamika di antara kelompok-kelompok yang menentang Houthi di Yaman.

Pergerakan Houthi dilaporkan mencapai sejumlah posisi strategis di sekitar Selat Bab al-Mandab dan berpotensi mengubah konfigurasi konflik Yaman yang telah berlangsung bertahun-tahun.

Perluasan wilayah Houthi menuju pesisir barat juga meningkatkan perhatian terhadap keamanan pelayaran dan pengiriman energi melalui Laut Merah.

Bab al-Mandab Jadi Titik Strategis

Iran merupakan sekutu utama Houthi, sehingga perkembangan di sekitar Bab al-Mandab turut menjadi perhatian dalam konteks persaingan regional dan ketegangan Teheran dengan Amerika Serikat.

Selat Bab al-Mandab memiliki posisi strategis karena menjadi jalur pelayaran antara Laut Merah dan Laut Arab, sementara Selat Hormuz merupakan jalur penting lain bagi perdagangan energi di kawasan.

Arab Saudi memiliki Jalur Pipa Timur-Barat yang menghubungkan kawasan timur negara itu dengan Terminal Yanbu di pesisir Laut Merah sebagai salah satu jalur pengiriman minyak.

Dari Yanbu, minyak dapat dikapalkan melalui Laut Merah dan Bab al-Mandab menuju pasar Asia, termasuk India, China, Jepang, dan Korea Selatan.

Pergerakan Houthi di kawasan yang menghadap Bab al-Mandab dinilai dapat meningkatkan risiko terhadap jalur tersebut, terlebih kelompok itu telah menyatakan ancaman terhadap kapal sipil dan militer Saudi yang melewati selat tersebut.

Saudi Disebut Meminta Bantuan AS

Arab Saudi disebut telah meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantu menghadapi Houthi di tengah perkembangan terbaru di Yaman.

Permintaan tersebut muncul ketika Amerika Serikat disebut terikat gencatan senjata dengan Houthi sejak Mei 2025.

The New York Times dilaporkan menyebut Trump menerima telepon dari Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pada awal pekan terkait situasi tersebut.

Keterlibatan kembali Amerika Serikat menghadapi Houthi dapat membawa konsekuensi terhadap keamanan kapal sipil dan militernya di Laut Merah serta Teluk Aden, sekaligus berpotensi memengaruhi ketegangan Washington dengan Iran.

Di sisi lain, hubungan Amerika Serikat dengan Arab Saudi tetap menjadi salah satu faktor dalam dinamika Washington dan Teheran sehingga perkembangan di Yaman berpotensi memiliki dampak yang melampaui konflik domestik negara tersebut.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026