HOME  ⁄  Geopolitik

FAO Ungkap Lebih dari 1,2 Juta Warga Palestina Alami Krisis Pangan Akut, Kondisi Diperkirakan Memburuk

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

FAO Ungkap Lebih dari 1,2 Juta Warga Palestina Alami Krisis Pangan Akut, Kondisi Diperkirakan Memburuk
Foto: (Sumber :Ilustrasi - Warga Palestina pengungsi menerima makanan hangat dari organisasi bantuan di Kamp Pengungsi di Gaza. Kerumunan besar, termasuk anak-anak, berkumpul untuk mendapatkan makanan. (ANTARA/Anadolu).)

Pantau - Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melaporkan lebih dari 1,2 juta warga Palestina di Jalur Gaza dan Tepi Barat mengalami kerawanan pangan akut pada tingkat krisis atau lebih parah selama April hingga Juni 2026.

FAO memperingatkan bahwa kondisi ketahanan pangan di kedua wilayah tersebut diperkirakan semakin memburuk pada semester kedua 2026.

Peringatan itu disampaikan FAO pada Rabu (7/10/2026) berdasarkan data sistem pemantauan Klasifikasi Fase Keamanan Pangan Terpadu atau Integrated Food Security Phase Classification (IPC).

"Di Gaza dan Tepi Barat, lebih dari 1,2 juta orang menghadapi tingkat kerawanan pangan akut pada kategori Krisis atau lebih parah antara April dan Juni 2026. Kondisi tersebut diperkirakan semakin memburuk pada semester kedua tahun ini," kata FAO dalam pernyataannya.

Lebih dari 1,2 Juta Warga Gaza dan Tepi Barat Hadapi Krisis Pangan

FAO menyebut lebih dari 1,2 juta orang di Jalur Gaza dan Tepi Barat mengalami kerawanan pangan akut yang masuk kategori krisis atau lebih buruk.

Data tersebut mencakup periode April hingga Juni 2026 berdasarkan pemantauan IPC.

Kategori krisis menunjukkan kondisi ketika masyarakat menghadapi kesulitan serius dalam memenuhi kebutuhan pangan.

FAO memperkirakan situasi tersebut berpotensi memburuk pada paruh kedua tahun ini.

Peringatan tersebut menjadi dasar bagi organisasi PBB itu untuk mendorong bantuan pertanian darurat dan pemulihan produksi pangan di wilayah terdampak.

FAO Butuhkan Dana Rp2,52 Triliun untuk Bantuan Pangan

FAO mengajukan kebutuhan pendanaan sebesar 140,9 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp2,52 triliun untuk tahun 2027.

Dana tersebut ditujukan untuk mendukung bantuan pertanian darurat serta program pemulihan di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Menurut FAO, bantuan pertanian menjadi bagian penting dalam memulihkan kemampuan masyarakat untuk memproduksi pangan.

Dukungan tersebut juga diarahkan untuk membantu pemulihan mata pencaharian warga yang terdampak krisis.

Melalui pendanaan tersebut, FAO berupaya mendukung pemulihan sektor pertanian sebagai salah satu sumber penghidupan masyarakat Palestina.

Sebanyak 93 Persen Penduduk Gaza Alami Kerawanan Pangan pada 2025

Sebagai perbandingan, data IPC pada periode 1 April hingga 10 Mei 2025 menunjukkan sebanyak 1,95 juta orang di Jalur Gaza mengalami kerawanan pangan akut pada kategori krisis atau lebih tinggi.

Jumlah tersebut setara dengan sekitar 93 persen dari keseluruhan penduduk Jalur Gaza pada periode tersebut.

Dari total warga yang mengalami kerawanan pangan akut, sebanyak 925.000 orang berada dalam kondisi darurat atau Tahap 4.

Sementara itu, sebanyak 244.000 orang tercatat berada dalam kondisi bencana atau Tahap 5.

Data tersebut menunjukkan tingkat keparahan krisis pangan yang dialami masyarakat Gaza pada periode pemantauan sebelumnya.

IPC Membagi Kerawanan Pangan Menjadi Lima Tingkatan

Sistem IPC merupakan metode klasifikasi yang diakui secara internasional untuk mengukur tingkat kerawanan pangan akut.

Klasifikasi tersebut membagi kondisi ketahanan pangan ke dalam lima tingkatan berdasarkan tingkat keparahannya.

Kelima tingkatan tersebut meliputi:

  • Tahap 1: Minimal.
  • Tahap 2: Tertekan.
  • Tahap 3: Krisis.
  • Tahap 4: Darurat.
  • Tahap 5: Bencana besar.

Kategori Tahap 3 hingga Tahap 5 menunjukkan kondisi kerawanan pangan akut yang memerlukan perhatian serius.

FAO menegaskan pentingnya bantuan pertanian darurat dan pemulihan mata pencaharian untuk menghadapi ancaman memburuknya krisis pangan di Jalur Gaza dan Tepi Barat.

Penulis :
Ahmad Yusuf
FLOII 2026