HOME  ⁄  Ekonomi

Rupiah Menguat ke Rp17.871 per Dolar AS, Cadangan Devisa Indonesia Rp146,3 Miliar Dolar AS Jadi Penopang

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Rupiah Menguat ke Rp17.871 per Dolar AS, Cadangan Devisa Indonesia Rp146,3 Miliar Dolar AS Jadi Penopang
Foto: (Sumber :Karyawan menghitung uang pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Ayu Masagung, Jakarta, Senin (13/7/2026). ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/foc.)

Pantau - Nilai tukar rupiah menguat 16 poin atau 0,09 persen menjadi Rp17.871 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Kamis (8/10/2026), didukung posisi cadangan devisa Indonesia yang hanya turun tipis menjadi 146,3 miliar dolar AS pada September 2026.

Penguatan tersebut terjadi setelah rupiah ditutup pada posisi Rp17.887 per dolar AS pada perdagangan sebelumnya.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai kondisi cadangan devisa Indonesia masih menjadi salah satu faktor yang mendukung ketahanan rupiah di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.

“Ketahanan rupiah juga didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang hanya turun tipis sebesar 0,2 miliar dolar AS menjadi 146,3 miliar dolar AS pada September 2026, meskipun terjadi net outflow di pasar portofolio,” ucap Josua kepada Wartawan di Jakarta, Kamis.

Cadangan Devisa Indonesia Turun Tipis pada September 2026

Josua menjelaskan bahwa cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tercatat sebesar 146,3 miliar dolar AS.

Jumlah tersebut turun 0,2 miliar dolar AS dibandingkan posisi Agustus 2026 yang mencapai 146,5 miliar dolar AS.

Perubahan cadangan devisa dipengaruhi sejumlah transaksi pemerintah dan langkah stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia (BI).

Penarikan pinjaman luar negeri pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa menjadi faktor yang mendukung posisi cadangan devisa.

Sementara itu, pembayaran utang luar negeri pemerintah yang jatuh tempo dan kebijakan stabilisasi rupiah turut memengaruhi perkembangan cadangan devisa.

Langkah stabilisasi tersebut dilakukan BI sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian di pasar keuangan global.

Cadangan Devisa Masih di Atas Standar Internasional

Posisi cadangan devisa Indonesia pada September 2026 dinilai masih memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal.

Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor.

Jika memperhitungkan pembayaran utang luar negeri pemerintah, jumlahnya setara dengan 5,2 bulan impor dan pembayaran utang.

Tingkat kecukupan tersebut masih berada di atas standar internasional yang berkisar tiga bulan impor.

Josua menilai kondisi ini memberikan dukungan bagi stabilitas rupiah meskipun terjadi arus keluar modal bersih dari pasar portofolio.

Rupiah Bertahan Lebih Baik Dibandingkan Mayoritas Mata Uang Asia

Pada perdagangan Rabu (7/10/2026), rupiah bergerak relatif mendatar atau sideways di tengah tekanan terhadap sejumlah mata uang kawasan Asia.

Josua menyebut kinerja rupiah pada perdagangan tersebut lebih baik dibandingkan mayoritas mata uang regional.

“Rupiah bergerak sideways pada Rabu (7/10) dan mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan mayoritas mata uang Asia. Sebagian besar mata uang regional melemah seiring meningkatnya tensi di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak,” kata Josua.

Peningkatan ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar keuangan kawasan.

Kenaikan harga minyak akibat perkembangan tersebut turut memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang Asia.

Kebijakan Suku Bunga The Fed Jadi Perhatian Pasar

Selain perkembangan geopolitik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) September 2026 menunjukkan dukungan seluruh 19 anggota yang memiliki hak suara terhadap kenaikan suku bunga kebijakan.

Josua mengatakan mayoritas anggota juga mendukung kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir 2026.

“Mayoritas anggota juga mendukung kenaikan suku bunga kembali sebelum akhir tahun, terutama karena tekanan inflasi yang persisten dan masih sticky,” ujar dia.

Kebijakan suku bunga AS menjadi salah satu faktor eksternal yang diperhatikan dalam memperkirakan pergerakan nilai tukar rupiah.

Rupiah Diperkirakan Bergerak di Kisaran Rp17.850–Rp17.950

Dengan mempertimbangkan kondisi cadangan devisa, perkembangan pasar keuangan global, dan kebijakan moneter AS, Josua memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang terbatas.

Nilai tukar rupiah diproyeksikan berada pada kisaran Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS.

Perkiraan tersebut mencerminkan potensi pergerakan rupiah di tengah dukungan cadangan devisa yang masih memadai dan tekanan eksternal yang berlangsung.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026