
Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan lebih dari 184.000 warga sipil di Yaman terpaksa meninggalkan rumah mereka sejak 1 Agustus 2026 akibat konflik berkepanjangan dan krisis kemanusiaan yang terus memburuk.
Dari jumlah tersebut, lebih dari 21.000 orang tercatat mengungsi hanya dalam sepekan terakhir.
Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) menyampaikan data tersebut pada Rabu (7/10/2026) dengan mengutip laporan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM).
Peningkatan jumlah pengungsi terjadi ketika kebutuhan bantuan kemanusiaan terus bertambah, sementara ketersediaan sumber daya untuk menangani krisis semakin terbatas.
Lebih dari 126 Ribu Warga Yaman Terima Bantuan Kemanusiaan
OCHA menyebut PBB bersama organisasi mitra kemanusiaan telah menyalurkan bantuan penyelamatan jiwa kepada lebih dari 126.000 warga terdampak konflik.
Meski demikian, jumlah warga yang membutuhkan bantuan terus meningkat seiring bertambahnya pengungsian di berbagai wilayah Yaman.
OCHA memperingatkan bahwa kebutuhan kemanusiaan saat ini telah melampaui kapasitas sumber daya yang tersedia.
Kondisi tersebut semakin mempersulit upaya penanganan krisis, terutama bagi masyarakat yang kehilangan tempat tinggal dan akses terhadap kebutuhan dasar.
Selain pengungsian, konflik juga menimbulkan kerusakan pada fasilitas dan properti milik warga sipil.
OCHA turut menyampaikan kekhawatiran mengenai laporan korban sipil serta meningkatnya ancaman bahan peledak di wilayah terdampak konflik.
WHO Peringatkan Wabah Kolera Melonjak Tiga Kali Lipat
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa sistem pelayanan kesehatan Yaman menghadapi tekanan berat akibat konflik, pengungsian, dan penyebaran penyakit.
WHO juga menyoroti kekurangan pendanaan yang signifikan untuk mendukung penanganan kesehatan masyarakat.
Menurut OCHA, jumlah kasus kolera di Yaman meningkat hingga tiga kali lipat dalam beberapa pekan terakhir.
Peningkatan kasus tersebut juga terjadi di kamp-kamp pengungsian yang menampung warga terdampak konflik.
"Kasus kolera telah melonjak tiga kali lipat dalam beberapa pekan terakhir, termasuk di kamp-kamp pengungsian, sementara campak, demam berdarah, dan malaria terus menyebar."
Selain kolera, penyebaran campak, demam berdarah, dan malaria semakin menambah beban sistem kesehatan Yaman yang telah mengalami keterbatasan layanan.
Penutupan Jalan di Taiz Hambat Distribusi Bantuan
Krisis kemanusiaan di Yaman juga diperparah oleh penutupan sejumlah jalur transportasi utama.
OCHA melaporkan jalan-jalan yang menghubungkan Kegubernuran Taiz dengan sejumlah kota besar masih ditutup.
Wilayah yang terdampak penutupan akses tersebut mencakup jalur menuju Hodeidah, Aden, dan Sanaa.
Penutupan jalan membatasi pergerakan warga sipil, distribusi barang komersial, serta pengiriman bantuan kemanusiaan.
Kondisi tersebut turut menghambat akses organisasi kemanusiaan untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan pertolongan.
Selain itu, ancaman bahan peledak di wilayah konflik semakin meningkatkan risiko keselamatan warga dan petugas kemanusiaan.
Harga Pangan dan Bahan Bakar Melonjak
OCHA juga menerima laporan mengenai kelangkaan sejumlah kebutuhan pokok dan pasokan medis di wilayah terdampak konflik.
Harga pangan dan bahan bakar dilaporkan mengalami kenaikan tajam akibat terganggunya jalur distribusi.
Kekhawatiran terhadap ketersediaan tepung, gas untuk memasak, dan obat-obatan juga semakin meningkat.
Situasi tersebut menambah kesulitan masyarakat yang telah menghadapi dampak konflik dan kehilangan sumber penghidupan.
PBB menegaskan perlunya perlindungan terhadap warga sipil serta jaminan akses yang aman bagi organisasi kemanusiaan.
"OCHA terus menilai dampak kemanusiaan dan menyerukan kepada semua pihak untuk melindungi warga sipil serta memfasilitasi upaya badan kemanusiaan agar dapat menjangkau mereka secara aman dan cepat dengan bantuan yang mereka butuhkan," tutur OCHA.
PBB bersama mitra kemanusiaannya terus memantau perkembangan situasi di Yaman untuk menilai kebutuhan bantuan bagi masyarakat terdampak konflik.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




