
Pantau - Pelajar sekolah menengah atas (SMA) dan mahasiswa di Prancis kembali menggelar aksi protes pada Kamis (8/10/2026), di tengah krisis kekurangan tenaga pengajar yang mendorong pemerintah menyiapkan penempatan 3.000 guru pengganti mulai Jumat (9/10/2026).
Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray mengumumkan langkah tersebut setelah ratusan sekolah dilaporkan mengalami kekurangan guru dengan tingkat keparahan berbeda.
Menurut Geffray, sebanyak 114 sekolah menengah atas masuk kategori "merah" akibat kekurangan tenaga pengajar yang parah.
Sementara itu, sekitar 400 sekolah lainnya masuk kategori "oranye" karena menghadapi tekanan terkait ketersediaan guru.
Pemerintah Prancis berupaya mengatasi persoalan tersebut melalui penambahan tenaga pengajar sekaligus membuka ruang dialog untuk menampung tuntutan pelajar.
Pemerintah Prancis Siapkan 3.000 Guru Pengganti
Menteri Pendidikan Edouard Geffray mengatakan sebanyak 3.000 guru pengganti akan ditempatkan di sekolah-sekolah yang membutuhkan tambahan tenaga pengajar.
Dalam wawancara dengan stasiun televisi TF1, Geffray menyampaikan bahwa penempatan guru tersebut akan dilakukan dalam beberapa jam setelah pengumuman.
Langkah itu ditujukan untuk membantu sekolah yang mengalami gangguan kegiatan belajar akibat kekurangan tenaga pendidik.
Geffray juga berencana memberikan kewenangan tambahan kepada otoritas pendidikan di tingkat distrik agar dapat merekrut lebih banyak guru.
"Saya akan memberi wewenang kepada pihak distrik sekolah untuk merekrut lebih banyak tenaga pengajar daripada yang saat ini diizinkan," katanya.
Kebijakan tersebut menjadi salah satu respons pemerintah terhadap tuntutan pelajar yang terus melakukan aksi protes.
Pemerintah berharap penambahan guru dapat membantu memperbaiki kondisi pembelajaran di sekolah-sekolah yang mengalami kekurangan tenaga pengajar.
Pemerintah Terima 66 Ribu Masukan dari Pelajar
Selain menyiapkan tambahan guru, pemerintah Prancis membuka saluran komunikasi untuk menerima aspirasi para siswa SMA.
Geffray mengatakan pemerintah telah menerima sekitar 66.000 masukan melalui platform yang diluncurkan khusus untuk menampung tuntutan pelajar.
Jumlah tersebut meningkat dari sekitar 40.000 masukan yang tercatat pada Kamis pagi.
Masukan yang disampaikan pelajar mencakup berbagai persoalan dalam sistem pendidikan Prancis.
Salah satu tuntutan utama adalah penambahan 250.000 kuota penerimaan mahasiswa di perguruan tinggi.
Para pelajar juga menuntut penghentian sistem seleksi penerimaan mahasiswa melalui platform Parcoursup.
Tuntutan tersebut menjadi bagian dari gelombang protes yang melibatkan siswa SMA dan mahasiswa di berbagai wilayah Prancis.
Aksi Protes Diikuti Puluhan Ribu Orang, 504 Demonstran Ditangkap
Gelombang demonstrasi pelajar di Prancis berlangsung dengan jumlah peserta yang berbeda menurut catatan serikat pekerja dan pemerintah.
Serikat pekerja CGT menyebut lebih dari 130.000 orang mengikuti aksi unjuk rasa yang digelar di seluruh negeri pada Kamis.
Sementara itu, Kementerian Dalam Negeri Prancis mencatat jumlah peserta demonstrasi mencapai 71.500 orang.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 24.500 demonstran tercatat mengikuti aksi di Paris.
Kementerian Dalam Negeri Prancis juga melaporkan penangkapan 504 orang selama aksi berlangsung.
Menurut kementerian tersebut, peningkatan kekerasan terjadi di sejumlah kawasan perkotaan ketika demonstrasi berlangsung.
Situasi tersebut turut menyebabkan korban luka dari kalangan aparat keamanan.
Hampir 50 Aparat Terluka, Tiga Anak di Bawah Umur Diselidiki
Kementerian Dalam Negeri Prancis menyatakan hampir 50 anggota kepolisian dan gendarmerie mengalami luka-luka dalam rangkaian aksi protes.
Laporan tersebut disampaikan setelah sejumlah demonstrasi di wilayah perkotaan diwarnai insiden kekerasan.
Sementara itu, kantor kejaksaan Prancis mengumumkan penyelidikan resmi terhadap tiga anak di bawah umur.
Ketiganya menjadi sasaran penyelidikan terkait insiden penyerangan terhadap seorang petugas polisi di Belfort.
Peristiwa tersebut terjadi dalam rangkaian demonstrasi yang melibatkan pelajar dan mahasiswa.
Pihak berwenang belum merinci hasil penyelidikan maupun kemungkinan tindakan hukum lanjutan terhadap ketiga anak tersebut.
Serikat Mahasiswa Serukan Demonstrasi Baru pada 13 Oktober
Meskipun pemerintah telah mengumumkan penempatan ribuan guru pengganti, gelombang protes pelajar di Prancis belum berakhir.
Serikat mahasiswa dan serikat pekerja pendidikan kembali menyerukan aksi unjuk rasa serta pemogokan pada Selasa (13/10/2026).
Seruan tersebut muncul ketika tuntutan mengenai penambahan kuota perguruan tinggi dan perubahan sistem penerimaan mahasiswa masih menjadi perhatian para demonstran.
Pemerintah Prancis kini menghadapi tekanan untuk menyelesaikan kekurangan guru sekaligus menanggapi aspirasi pelajar mengenai akses pendidikan tinggi.
Penempatan 3.000 guru pengganti dijadwalkan dimulai pada Jumat (9/10/2026), sementara kelompok mahasiswa dan pekerja pendidikan tetap mempersiapkan aksi lanjutan pekan depan.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




