
Pantau - Presiden Pakistan Asif Ali Zardari mendesak Amerika Serikat dan Iran menahan diri serta mematuhi komitmen dalam Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad yang dicapai pada Juni 2026 untuk meredakan konflik di Timur Tengah.
Zardari menegaskan bahwa perbedaan antara kedua negara harus diselesaikan melalui dialog dan diplomasi guna mencegah meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Zardari bertemu Menteri Dalam Negeri Rusia Vladimir Kolokoltsev di Islamabad, Selasa (13/10/2026).
Menurut Kantor Kepresidenan Pakistan, Zardari menyampaikan kekhawatiran mendalam terhadap meningkatnya serangan yang menyasar jalur pelayaran, fasilitas energi, dan infrastruktur penting di kawasan tersebut.
Pakistan Ingatkan Pentingnya Keamanan Selat Hormuz dan Laut Merah
Zardari menekankan pentingnya menjaga keamanan pelayaran internasional, khususnya di Selat Hormuz dan Laut Merah.
Kedua jalur maritim tersebut memiliki peran penting dalam mendukung perdagangan internasional dan distribusi energi.
Presiden Pakistan memperingatkan bahwa meningkatnya konflik di kawasan Teluk dapat menimbulkan tantangan serius bagi stabilitas regional.
Menurutnya, ketegangan tersebut juga berpotensi mengganggu ketahanan energi global, aktivitas perdagangan, dan rantai pasokan internasional.
Zardari meminta seluruh pihak menghormati kedaulatan dan integritas wilayah setiap negara.
Ia juga mendorong Amerika Serikat dan Iran kembali mengutamakan pendekatan diplomatik berdasarkan komitmen yang telah disepakati dalam MoU Islamabad.
Menteri Dalam Negeri Rusia Temui Presiden Pakistan
Seruan diplomasi tersebut disampaikan ketika Menteri Dalam Negeri Rusia Vladimir Kolokoltsev melakukan kunjungan resmi selama empat hari ke Pakistan.
Kunjungan tersebut merupakan lawatan pertama Kolokoltsev ke Pakistan dalam kapasitasnya sebagai Menteri Dalam Negeri Rusia.
Dalam pertemuan dengan Zardari, kedua pihak turut membahas hubungan bilateral, termasuk peluang peningkatan kerja sama ekonomi.
Kolokoltsev menyampaikan bahwa nilai perdagangan Rusia dan Pakistan pada tahun fiskal 2025 mencapai 243,4 juta dolar AS.
Namun, ia menilai angka tersebut masih berada di bawah potensi perdagangan yang dapat dicapai kedua negara.
Menurut Kolokoltsev, hubungan bilateral yang telah terjalin perlu diterjemahkan menjadi hasil kerja sama yang lebih konkret.
Ia juga menyampaikan undangan kepada Presiden Zardari untuk melakukan kunjungan ke Rusia.
Rusia dan Pakistan Bahas Pemberantasan Terorisme hingga Kejahatan Siber
Selain bertemu Presiden Pakistan, Kolokoltsev mengadakan pembicaraan terpisah dengan Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi.
Pertemuan tersebut membahas peningkatan kerja sama penegakan hukum antara kedua negara.
Sejumlah isu yang menjadi perhatian meliputi pemberantasan kejahatan terorganisasi, terorisme, ekstremisme, serta perdagangan senjata ilegal dan narkoba.
Kedua pihak juga membahas penanganan kejahatan siber, termasuk penipuan melalui telepon dan praktik phishing atau pencurian informasi melalui penyamaran digital.
Pembahasan turut mencakup penipuan berkedok skema piramida mata uang kripto.
Menurut keterangan Kedutaan Besar Rusia di Islamabad, Kolokoltsev menyatakan kerja sama penegakan hukum Rusia dan Pakistan didasarkan pada hubungan bilateral yang bersahabat dan saling menguntungkan.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya kedua negara memperkuat koordinasi di bidang keamanan sekaligus memperluas hubungan ekonomi.
- Penulis :
- Aditya Yohan




