
Pantau - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan kekhawatiran atas meningkatnya serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi yang menyasar infrastruktur sipil dan energi, di tengah eskalasi konflik Yaman yang telah memaksa lebih dari 250.000 warga meninggalkan tempat tinggal mereka sejak awal Agustus 2026.
Juru Bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan serangan Houthi yang terus berlangsung berpotensi memperburuk situasi keamanan di kawasan.
Pernyataan tersebut disampaikan Dujarric dalam konferensi pers pada Senin (19/10/2026).
"Kami juga merasa prihatin atas berlanjutnya serangan Houthi ke seluruh wilayah Arab Saudi, termasuk serangan yang berdampak pada infrastruktur sipil dan energi," kata Dujarric.
PBB juga menyoroti meningkatnya intensitas pertempuran di sejumlah garis depan konflik Yaman, khususnya di sekitar Kota Taiz.
PBB Desak Houthi dan Pihak Bertikai Kembali Berdialog
Dujarric meminta seluruh pihak yang terlibat konflik Yaman mengutamakan jalur diplomasi untuk menghentikan eskalasi kekerasan.
Menurutnya, penyelesaian politik melalui perundingan menjadi langkah penting untuk mengakhiri konflik yang terus berlangsung.
PBB mendorong pihak-pihak yang bertikai bekerja sama dengan Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg.
"Kami mendesak semua pihak untuk terlibat secara konstruktif dengan Utusan Khusus PBB (untuk Yaman) Hans Grundberg guna menemukan jalan menuju dialog inklusif demi mencapai penyelesaian politik melalui negosiasi," lanjut Dujarric.
Seruan tersebut disampaikan ketika pertempuran antara kelompok Houthi dan pasukan pemerintah Yaman kembali meningkat.
PBB menilai situasi keamanan di berbagai wilayah Yaman membutuhkan perhatian serius karena berdampak langsung terhadap keselamatan masyarakat sipil.
Lebih dari 250 Ribu Warga Yaman Mengungsi Sejak Agustus
Peningkatan konflik di Yaman juga memicu gelombang pengungsian dalam jumlah besar.
Dujarric mengungkapkan bahwa lebih dari 250.000 warga Yaman telah mengungsi sejak pertempuran kembali berlangsung pada awal Agustus 2026.
Dari jumlah tersebut, lebih dari 82.000 orang dilaporkan mengungsi sepanjang Oktober 2026.
Sebagian besar pengungsi berasal dari Provinsi Taiz, salah satu wilayah yang mengalami peningkatan intensitas pertempuran.
Gelombang pengungsian tersebut menunjukkan dampak konflik terhadap masyarakat sipil yang tinggal di kawasan pertempuran.
PBB terus menyoroti kondisi kemanusiaan di Yaman seiring meluasnya operasi militer dan serangan lintas wilayah.
Konflik Memanas Setelah Serangan terhadap Bandara Sanaa
Ketegangan di Yaman meningkat pada pertengahan Juli 2026 setelah pasukan pro-pemerintah yang didukung Arab Saudi menyerang Bandara Sanaa.
Serangan tersebut terjadi ketika sebuah pesawat dari Iran yang membawa delegasi pemimpin Houthi sedang melakukan pendaratan.
Kelompok Houthi kemudian menyalahkan Arab Saudi atas serangan tersebut.
Houthi selanjutnya menyatakan perang terhadap kerajaan itu dan mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.
Perkembangan tersebut memperluas ketegangan dari konflik domestik Yaman menjadi serangan yang juga menyasar wilayah Arab Saudi.
Sejak saat itu, serangan dan operasi militer dilaporkan terus berlangsung di berbagai wilayah.
Houthi Kuasai Pesisir Barat Laut Merah
Di tengah eskalasi konflik, kelompok Houthi dilaporkan telah menguasai seluruh pesisir barat Laut Merah dan sejumlah kota di sekitar Selat Bab al-Mandab.
Wilayah tersebut memiliki posisi strategis karena berada di jalur pelayaran yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Sementara itu, Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional terus melancarkan operasi militer untuk merebut kembali Ibu Kota Sanaa dari kelompok Houthi.
Pertempuran antara kedua pihak menyebabkan situasi keamanan semakin tidak stabil.
PBB kembali menekankan pentingnya dialog politik untuk mencegah perluasan konflik dan mengurangi dampaknya terhadap masyarakat sipil.
Upaya diplomasi melalui Utusan Khusus PBB Hans Grundberg diharapkan dapat membuka jalan menuju perundingan dan penyelesaian politik di Yaman.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




