HOME  ⁄  Geopolitik

Tiga Bulan Pascagempa Kumamoto, Lebih dari 1.000 Warga Jepang Masih Mengungsi dan Menunggu Hunian Sementara

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Tiga Bulan Pascagempa Kumamoto, Lebih dari 1.000 Warga Jepang Masih Mengungsi dan Menunggu Hunian Sementara
Foto: (Sumber :Arsip - Warga beristirahat di tempat penampungan sementara di Kota Uki akibat gempa bumi bermagnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto, Jepang, Rabu (29/7/2026). (ANTARA/Xinhua/Jia Haocheng/aa).)

Pantau - Lebih dari 1.000 warga Prefektur Kumamoto, Jepang, masih bertahan di pusat pengungsian hingga tiga bulan setelah gempa bumi bermagnitudo 7,1 mengguncang wilayah tersebut pada 28 Juli 2026.

Para pengungsi belum dapat kembali menjalani kehidupan normal karena rumah mereka mengalami kerusakan dan sebagian masih menunggu ketersediaan hunian sementara.

Berdasarkan data hingga Senin (26/10/2026), gempa tersebut mengakibatkan 38 orang meninggal dunia dan jumlah korban secara keseluruhan mencapai 420 orang.

Dari total korban meninggal, sebanyak 36 orang dilaporkan meninggal akibat dampak bencana, sedangkan dua orang lainnya meninggal ketika gempa terjadi.

Ribuan Rumah Rusak, Pengungsi Tersebar di 21 Lokasi

Gempa bermagnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto pada 28 Juli 2026 sekitar pukul 16.27 waktu setempat.

Bencana tersebut menyebabkan kerusakan luas pada permukiman warga dan memaksa penduduk meninggalkan rumah mereka.

Jumlah rumah yang mengalami kerusakan tercatat mencapai 82.223 unit, termasuk 2.585 rumah yang hancur total.

Hingga akhir Oktober 2026, sebanyak 21 pusat evakuasi masih beroperasi di tujuh kota dan wilayah administratif setingkat kota kecil.

Kota Yatsushiro menampung jumlah pengungsi terbanyak, yakni 579 orang atau lebih dari separuh total warga yang masih berada di pengungsian.

Sementara itu, sebanyak 263 orang masih mengungsi di Uki, 155 orang di Hikawa, dan 65 orang di Uto.

Sebagian warga masih menunggu kesempatan mendapatkan hunian sementara sebelum dapat meninggalkan pusat evakuasi.

Pengungsi Mengeluhkan Kelelahan dan Kesulitan Tidur

Kondisi pengungsian yang berlangsung selama berbulan-bulan mulai berdampak terhadap kehidupan sehari-hari warga terdampak.

Salah seorang pengungsi di Yatsushiro, Yoichi Yamaguchi (74), mengaku mengalami kesulitan tidur dan terus merasa kelelahan selama tinggal di tempat penampungan.

"Saya tidak bisa tidur nyenyak, dan saya merasa lelah terus," kata Yamaguchi.

Rumah Yamaguchi mengalami kerusakan sebagian akibat gempa sehingga belum dapat kembali ditempati seperti sebelumnya.

Ia telah mengajukan permohonan untuk mendapatkan hunian sementara, tetapi belum terpilih sebagai penerima.

"Saya tidak tahu berapa bulan lagi yang harus saya lalui sebelum bisa meninggalkan tempat ini," katanya.

Kondisi tersebut menggambarkan ketidakpastian yang masih dihadapi sebagian warga terdampak dalam proses pemulihan pascabencana.

Pemerintah Kumamoto Siapkan Rencana Pemulihan dan Rekonstruksi

Pemerintah Prefektur Kumamoto merilis rancangan rencana pemulihan dan rekonstruksi pada Selasa (27/10/2026).

Rencana tersebut memuat langkah untuk membantu warga membangun kembali kehidupan mereka, termasuk mempercepat penyediaan hunian sementara.

Gubernur Kumamoto Takashi Kimura mengatakan program pemulihan harus memberikan harapan bagi masyarakat yang terdampak gempa.

"Kita harus menjadikan rencana ini sebagai secercah harapan bagi daerah-daerah yang terdampak bencana," kata Kimura dalam rapat pembahasan rekonstruksi.

Pemerintah setempat juga menyusun peta jalan pemulihan hingga tahun anggaran 2028.

Program tersebut mencakup pemulihan kehidupan masyarakat serta pembangunan kembali infrastruktur sosial yang mengalami kerusakan.

Pemulihan Air Bersih dan Layanan Kesehatan Jadi Prioritas

Dalam rencana rekonstruksi, pemerintah Kumamoto turut mempertimbangkan berbagai kendala yang dihadapi masyarakat setelah gempa.

Salah satu tantangan adalah suhu panas ekstrem yang memengaruhi kondisi warga di lokasi pengungsian.

Selain itu, gangguan pasokan air bersih menjadi perhatian karena proses perbaikannya diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu bulan.

Pemerintah berencana merevisi pedoman operasional pusat pengungsian untuk meningkatkan pelayanan kepada korban bencana.

Penguatan sistem penyediaan air bersih dan saluran pembuangan juga masuk dalam agenda pemulihan.

Selain kebutuhan infrastruktur, pemerintah menyiapkan layanan kesehatan fisik dan mental bagi masyarakat terdampak.

Rencana tersebut juga mencakup langkah antisipasi tsunami menyusul kekhawatiran terhadap segmen patahan di lepas pantai dekat pusat gempa yang tidak mengalami pergeseran ketika gempa terjadi.

Pemerintah Kumamoto menargetkan pelaksanaan program pemulihan secara bertahap hingga 2028, sementara lebih dari 1.000 warga masih menunggu hunian sementara untuk meninggalkan pengungsian.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026