HOME  ⁄  Geopolitik

Studi Ungkap Perubahan Iklim Ancam Produksi Padi, Jagung, dan Tebu di Asia Tenggara hingga 2044

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Studi Ungkap Perubahan Iklim Ancam Produksi Padi, Jagung, dan Tebu di Asia Tenggara hingga 2044
Foto: (Sumber :Studi: Perubahan iklim dapat pangkas produksi padi, jagung, dan tebu.)

Pantau - Perubahan iklim diproyeksikan menurunkan produksi sejumlah tanaman pangan utama di Asia Tenggara, termasuk padi, jagung, dan tebu, akibat peningkatan suhu, gelombang panas, serta perubahan pola curah hujan yang berpotensi mengganggu aktivitas pertanian hingga 2044.

Temuan tersebut terungkap dalam studi ASEAN Agri Climate Impact Twenty yang dirilis oleh Badan Pangan Singapura dan Universitas Nasional Singapura pada Kamis (29/10/2026).

Penelitian tersebut memperkirakan produksi rata-rata padi di kawasan Asia Tenggara dapat mengalami penurunan sebesar 3 hingga 5 persen selama periode 2025–2044.

Sementara itu, produksi jagung diproyeksikan turun sebesar 5 hingga 6 persen, sedangkan produksi tebu diperkirakan menyusut sekitar 1 hingga 4 persen.

Proyeksi tersebut menunjukkan potensi dampak perubahan iklim terhadap produktivitas pertanian di kawasan yang memiliki ketergantungan besar terhadap tanaman pangan.

Produksi Padi dan Jagung Terancam Turun akibat Perubahan Iklim

Studi tersebut mengidentifikasi sejumlah risiko iklim yang dapat memengaruhi hasil pertanian di Asia Tenggara dalam dua dekade mendatang.

Peningkatan suhu udara menjadi salah satu faktor yang diperkirakan berdampak terhadap pertumbuhan tanaman dan produktivitas lahan pertanian.

Selain itu, gelombang panas yang semakin sering terjadi dan berlangsung lebih lama berpotensi meningkatkan tekanan terhadap tanaman pangan.

Perubahan pola curah hujan juga dapat mengganggu ketersediaan air yang dibutuhkan selama proses budidaya.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi jadwal penanaman, pertumbuhan tanaman, hingga jumlah hasil panen yang diperoleh petani.

Dalam proyeksi penelitian, jagung menghadapi potensi penurunan produksi terbesar di antara tiga komoditas utama yang mengalami penyusutan, yakni mencapai 6 persen.

Sementara itu, produksi padi diperkirakan turun hingga 5 persen dan tebu hingga 4 persen selama periode kajian.

Produksi Singkong dan Kedelai Justru Diproyeksikan Meningkat

Meski sejumlah komoditas pangan diperkirakan mengalami penurunan, studi tersebut juga menemukan adanya potensi peningkatan produksi pada tanaman tertentu.

Produksi singkong di Asia Tenggara diproyeksikan meningkat sebesar 16 persen dalam periode 2025 hingga 2044.

Sementara itu, produksi kedelai diperkirakan mengalami pertumbuhan sebesar 11 hingga 13 persen.

Namun, para peneliti mengingatkan bahwa peningkatan produksi rata-rata tidak berarti kedua komoditas tersebut terbebas dari ancaman perubahan iklim.

"Proyeksi rata-rata yang lebih baik untuk beberapa tanaman pertanian tidak berarti tanaman-tanaman tersebut terbebas dari risiko-risiko terkait iklim. Produksi tetap dapat dipengaruhi oleh variabilitas kondisi iklim pada tahun tertentu termasuk panas ekstrem, curah hujan tinggi, atau kekeringan pada tahun dengan kondisi yang tidak menguntungkan," urai laporan tersebut.

Dengan demikian, produksi singkong dan kedelai tetap berpotensi mengalami gangguan ketika terjadi kondisi cuaca ekstrem pada tahun tertentu.

Variasi kondisi iklim dari tahun ke tahun menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam membaca proyeksi produksi pertanian jangka panjang.

El Nino Kuat Bisa Pangkas Produksi Pertanian hingga 10 Persen

Selain perubahan suhu dan curah hujan, studi tersebut menyoroti ancaman fenomena El Nino terhadap sektor pertanian di Asia Tenggara.

Fenomena El Nino yang sangat kuat diperkirakan dapat menurunkan rata-rata produksi tanaman di seluruh kawasan hingga sekitar 10 persen.

Sistem pertanian padi dan pertanian yang bergantung pada air hujan atau tadah hujan dinilai lebih rentan terhadap dampak fenomena tersebut.

Kerentanan tersebut berkaitan dengan ketergantungan tanaman terhadap ketersediaan air selama masa pertumbuhan.

Ketika kondisi iklim tidak mendukung, kekurangan air dapat mengganggu proses budidaya dan memengaruhi hasil panen.

Sebaliknya, curah hujan yang terlalu tinggi juga berpotensi menimbulkan gangguan terhadap kegiatan pertanian.

Studi tersebut memperkirakan Asia Tenggara akan menghadapi suhu yang semakin meningkat, gelombang panas lebih sering dan berkepanjangan, serta pola curah hujan yang semakin tidak menentu.

Perubahan kondisi iklim tersebut berpotensi memengaruhi ketersediaan air, waktu penanaman, dan produktivitas berbagai komoditas pertanian di kawasan Asia Tenggara hingga 2044.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026