HOME  ⁄  Geopolitik

Iran Ancam Keluar dari Traktat Nuklir NPT jika Perang Kembali Terjadi

Oleh Gerry Eka
SHARE   :

Iran Ancam Keluar dari Traktat Nuklir NPT jika Perang Kembali Terjadi
Foto: Ilustrasi - Gambaran kecerdasan buatan mengenai bahaya radioaktif akibat penyalahgunaan nuklir.

Pantau - Iran memperingatkan kemungkinan menarik diri dari Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) apabila konflik militer terhadap negara tersebut kembali terjadi.

Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran (SNSC) Mohsen Rezaei menyatakan bahwa Teheran mengutamakan pembahasan mengenai hak-haknya dalam persoalan nuklir dibandingkan menerima pembatasan terhadap negaranya.

"Dalam hal nuklir, prioritas kami adalah untuk membahas hak-hak kami, bukan untuk menerima pembatasan pada pihak Iran," kata Rezaei kepada televisi nasional Iran, sebagaimana dikutip pada Minggu (1/11/2026).

Rezaei menjelaskan bahwa pemerintah Iran belum menetapkan keputusan mengenai kelanjutan keanggotaannya dalam NPT apabila perang kembali berlangsung pada masa mendatang.

Pernyataan tersebut muncul di tengah ketegangan militer antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel yang telah berlangsung sejak awal 2026.

Parlemen Iran Kaji Kemungkinan Keluar dari NPT

Wacana penarikan diri Iran dari perjanjian internasional mengenai pembatasan penyebaran senjata nuklir sebelumnya telah disampaikan sejumlah pejabat parlemen negara tersebut.

Wakil Ketua Parlemen Iran Ali Nikzad mengisyaratkan bahwa lembaga legislatif tengah mempertimbangkan kemungkinan negaranya meninggalkan NPT.

Pembahasan tersebut berkaitan dengan sikap Iran terhadap perkembangan konflik militer dan persoalan hak nuklir nasional.

Sementara itu, anggota Presidium Parlemen Iran Abbas Goudarzi menyatakan bahwa keputusan untuk keluar dari NPT merupakan langkah yang memungkinkan untuk dilaksanakan.

Goudarzi bahkan menggambarkan penarikan diri Iran dari perjanjian tersebut sebagai tindakan yang "sangat nyata dan mudah dicapai".

Meski demikian, pernyataan Rezaei menunjukkan bahwa Teheran belum mengambil keputusan akhir mengenai status keanggotaannya apabila perang kembali terjadi.

Konflik Iran dengan AS dan Israel Berlangsung Sejak Februari

Ketegangan antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel meningkat setelah kedua negara melancarkan serangan militer gabungan berskala besar terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Serangan tersebut kemudian mendapat balasan dari Teheran sehingga memicu rangkaian konflik militer antara pihak-pihak yang terlibat.

Di tengah konflik tersebut, Amerika Serikat dan Iran sempat mencapai kesepakatan mengenai memorandum untuk memulai proses pembahasan perjanjian perdamaian pada pertengahan Juni 2026.

Kesepakatan itu membuka peluang pembicaraan untuk meredakan permusuhan yang terjadi antara Washington dan Teheran.

Namun, sekitar tiga pekan setelah kesepakatan tersebut, konflik kembali meningkat dan kedua pihak kembali terlibat aksi saling serang.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa upaya pembahasan perdamaian belum berhasil menghentikan permusuhan militer.

Selat Hormuz Masih Belum Dibuka untuk Pelayaran Bebas

Ketegangan kembali meningkat setelah pemerintah Amerika Serikat menuding Iran melakukan serangan terhadap sejumlah kapal komersial di Selat Hormuz.

Tuduhan tersebut diikuti dengan aksi saling serang antara Washington dan Teheran.

Selat Hormuz menjadi salah satu kawasan yang terdampak langsung oleh perkembangan konflik tersebut.

Hingga laporan ini disampaikan, pelayaran bebas di Selat Hormuz masih belum dibuka.

Di tengah situasi tersebut, Iran terus menegaskan bahwa pembahasan mengenai program nuklir harus mengutamakan hak-hak negaranya.

Pemerintah Iran juga belum memastikan apakah akan mempertahankan keanggotaan dalam NPT apabila kembali menghadapi perang.

Pernyataan para pejabat Iran mengenai kemungkinan keluar dari traktat tersebut menjadi bagian dari perkembangan terbaru ketegangan antara Teheran dan Washington.

Penulis :
Gerry Eka
FLOII 2026