
Pantau - PT Jakarta Propertindo (Jakpro) berkolaborasi dengan para seniman untuk memperkuat peran Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai ruang seni dan budaya yang mempertemukan pelaku seni dari berbagai daerah hingga mancanegara.
Kepala SBU TIM PT Jakarta Propertindo (Perseroda) Anya Aprilia mengatakan fasilitas seni dan ruang publik yang semakin lengkap serta terintegrasi memberikan kesempatan lebih luas bagi seniman untuk berkolaborasi, bertukar gagasan, dan membangun relasi lintas komunitas.
“TIM kini hadir sebagai ruang yang semakin inklusif dan terbuka bagi berbagai kalangan. Di dalamnya terdapat beragam narasi seni dan budaya yang memperkaya wajah Jakarta sekaligus memperkuat identitas kota,” kata Anya di TIM, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2026).
Anya mengatakan ekosistem tersebut semakin diperkuat dengan keberadaan Paviliun Raden Saleh (PRS) yang dirancang dengan memperhatikan karakteristik TIM sebagai salah satu ruang berkumpul para seniman.
Fasilitas yang semakin memadai, nyaman, dan akomodatif juga diharapkan memberikan ruang lebih luas bagi seniman untuk berkarya, berdiskusi, berkolaborasi, serta membangun jejaring.
Pameran 100 Tahun Ali Sadikin Hadirkan 35 Seniman
Salah satu bentuk kolaborasi Jakpro dan seniman diwujudkan melalui Pameran Seni Rupa ‘100 Tahun Ali Sadikin: Memoria dan Utopia Jakarta’.
Pameran yang dikuratori Syakieb Sungkar tersebut dijadwalkan berlangsung di Selasar Nashar, Paviliun Raden Saleh, Taman Ismail Marzuki, pada 20 November hingga 10 Desember 2026.
Pameran tersebut mengusung semangat mengenang warisan sekaligus menggagas masa depan Jakarta sebagai kota seni dan budaya.
Sebanyak 35 seniman dari Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta dijadwalkan berpartisipasi dalam pameran tersebut.
Seniman Dorong TIM Jadi Rumah Seni Indonesia
Seniman TIM sekaligus Panitia Pameran Seno Joko Suyono berharap penguatan ekosistem tersebut semakin mengukuhkan TIM sebagai rumah seni yang ramah bagi seniman Indonesia maupun mancanegara.
Ia juga berharap TIM terus menjadi ruang publik yang mendorong tumbuhnya interaksi dan kolaborasi kebudayaan.
“Bagi kami para seniman, TIM bukan sekadar gedung atau kawasan kesenian. TIM adalah ruang hidup tempat gagasan bertemu, karya tumbuh, dan kebudayaan Indonesia diperkenalkan kepada dunia. Inilah yang semakin mengokohkan Jakarta sebagai kota global yang modern dan terbuka, namun tetap memiliki akar budaya dan seni yang kuat,” kata Seno.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




