
Pantau - Maestro seni Mohammad Guruh Irianto Soekarnoputra meninggal dunia pada usia 73 tahun di Rumah Sakit MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, Jakarta, Sabtu (26/9/2026) pukul 04.16 WIB, setelah puluhan tahun mendedikasikan kiprahnya bagi musik, tari, dan kebudayaan Indonesia.
Putra bungsu Proklamator RI Soekarno dan Fatmawati yang lahir di Jakarta pada 13 Januari 1953 tersebut dikenal melalui berbagai karya yang memadukan kekayaan seni tradisional Nusantara dengan bentuk pertunjukan modern.
Guruh juga meninggalkan jejak melalui kelompok kesenian Swara Maharddhika, album "Guruh Gipsy", sederet lagu populer, hingga berbagai pergelaran seni kolosal.
Swara Maharddhika hingga Guruh Gipsy
Salah satu tonggak perjalanan kesenian Guruh adalah pendirian Swara Maharddhika pada 1977 sebagai wadah pengembangan seni pertunjukan yang memadukan tari daerah, musik pop, dan tata panggung kolosal.
Sejumlah nama yang kemudian dikenal luas di dunia hiburan dan seni pernah menjadi bagian dari Swara Maharddhika, antara lain Denny Malik, Titi DJ, Restu Kusumaningrum, Memes, Marissa Haque, dan Soraya Haque.
Eksplorasi Guruh terhadap musik Indonesia juga tertuang dalam "Guruh Gipsy" pada 1976 melalui kolaborasi bersama Abadi Soesman, Chrisye, Keenan Nasution, Roni Harahap, dan Oetje F Tekol.
Album tersebut memadukan unsur gamelan Bali dengan musik progressive rock modern.
Guruh juga menciptakan sejumlah lagu yang dikenal lintas generasi, seperti "Anak Jalanan" pada 1978, "Melati Suci" pada 1980, "Lenggang Puspita" pada 1986, "Zamrud Khatulistiwa" pada 1987, "Seni" pada 1990, hingga "Candu Asmara" pada 1998.
Kiprah artistiknya turut diwujudkan melalui berbagai pertunjukan, antara lain "Pergelaran Karya Cipta Guruh Soekarno Putra" pada 1979, "Untukmu Indonesiaku!" pada 1980, "Cinta Indonesia" pada 1984, dan "Gilang Indonesia Gemilang" pada 1986.
Dari Panggung Seni hingga Parlemen
Selain berkesenian, Guruh menjalani perjalanan panjang di dunia politik bersama PDI Perjuangan.
Ia terpilih menjadi anggota DPR RI secara berkelanjutan sejak periode 1999–2004 hingga 2019–2024.
Saat bertugas di Komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan dan kebudayaan, Guruh turut mendorong kebijakan pemajuan kebudayaan serta penguatan pelindungan hak cipta bagi pekerja seni dan pencipta lagu di Indonesia.
Perjalanan hidup Guruh juga mencakup pernikahannya dengan Sabina Padmavati, seorang penari asal Uzbekistan, pada 2002, meski rumah tangga keduanya kemudian berakhir.
Kepergian Guruh meninggalkan berbagai karya musik, tari, dan seni pertunjukan yang menjadi bagian dari perjalanan kebudayaan Indonesia.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




