HOME  ⁄  Hiburan

Didik Nini Thowok Ajak Generasi Muda Pegang Filosofi Napak Lemah, Jaga Jati Diri dan Jangan Lupakan Sejarah

Oleh Aditya Yohan
SHARE   :

Didik Nini Thowok Ajak Generasi Muda Pegang Filosofi Napak Lemah, Jaga Jati Diri dan Jangan Lupakan Sejarah
Foto: (Sumber :Maestro tari Didik Hadiprayitno atau yang dikenal sebagai Didik Nini Thowok sedang menjelaskan koleksi kain di kediamannya di Kota Yogyakarta, Selasa (27/10/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah).)

Pantau - Maestro tari Indonesia Didik Hadiprayitno atau Didik Nini Thowok mengajak generasi muda memegang teguh filosofi Jawa napak lemah yang berarti menginjak tanah sebagai pengingat untuk tetap rendah hati, menjaga jati diri, dan tidak melupakan akar budaya di tengah perkembangan zaman.

Pesan tersebut disampaikan Didik saat ditemui di kediamannya di Kota Yogyakarta, Selasa (27/10/2026), menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda.

Seniman kelahiran Temanggung itu menekankan pentingnya memahami asal-usul dan nilai-nilai warisan leluhur agar generasi muda tidak kehilangan identitas budaya.

"Jangan lupa napak tanah itu kan simbolis sekali. Jadi hidup itu jangan selalu melihat ke atas, sombong yang dilihat yang tinggi-tinggi. Kita itu harus selalu rendah hati. Siapa sih kita ini? Jangan lupa jati diri asal kita," ujar Didik.

Filosofi Napak Lemah Ajarkan Kerendahan Hati

Didik menjelaskan bahwa napak lemah mengandung pesan agar seseorang tetap berpijak pada kenyataan dan tidak melupakan tempat asalnya.

Menurutnya, filosofi tersebut menjadi pengingat untuk tidak bersikap sombong meskipun telah meraih berbagai pencapaian dalam kehidupan.

Ia menilai generasi muda perlu memahami ajaran leluhur serta tradisi masyarakat tempat mereka tumbuh dan mencari penghidupan.

Nilai-nilai budaya lokal, menurut Didik, merupakan bagian dari jati diri yang perlu dijaga di tengah perubahan sosial dan modernisasi.

Melalui filosofi tersebut, Didik mengingatkan pentingnya keseimbangan antara mengejar kemajuan dan mempertahankan kerendahan hati.

Didik Nini Thowok Ingatkan Pentingnya Persatuan

Selain menyoroti jati diri budaya, Didik mengajak masyarakat menghindari sikap yang membeda-bedakan orang berdasarkan suku maupun agama.

Ia menilai cara pandang yang terlalu sempit terhadap identitas sosial dapat menghambat persatuan dan kerja sama antarmasyarakat.

"Jangan jadi orang yang nyaman dengan dikotak-kotakkan; 'aku suku ini, aku agama ini'. Leluhur kita dulu kan tidak begitu. Kalau berpikiran sempit, tidak akan bisa membuat karya-karya besar seperti candi-candi yang usianya ratusan tahun masih kokoh berdiri," tuturnya.

Didik menjadikan peninggalan peradaban masa lalu, termasuk bangunan candi, sebagai contoh karya besar yang perlu dipelajari generasi sekarang.

Menurutnya, peninggalan tersebut tidak hanya memiliki nilai sejarah dan seni, tetapi juga menyimpan pelajaran mengenai kehidupan masyarakat terdahulu.

Generasi Muda Diminta Tidak Melupakan Sejarah

Didik turut mengingatkan semboyan "Jasmerah" atau "Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah" sebagai pesan penting bagi generasi penerus bangsa.

Ia menilai masyarakat perlu memahami latar belakang sejarah dan makna peninggalan budaya, bukan sekadar melihat bentuk fisik atau keindahan karya seni.

Pemahaman sejarah tersebut dinilai penting untuk mengenali nilai-nilai keteladanan yang diwariskan generasi sebelumnya.

Didik juga menekankan bahwa pelestarian budaya membutuhkan kemauan untuk terus belajar dan memahami tradisi secara mendalam.

Konsistensi Berkarya Harus Disertai Riset dan Pembelajaran

Sebagai seniman yang dikenal melalui seni tari tradisional dan pertunjukan tari komedi lintas gender, Didik menilai konsistensi berkarya harus didukung penelitian lapangan.

Menurutnya, pengalaman berkesenian dan pengetahuan budaya tidak cukup hanya diperoleh melalui pendidikan formal.

Ia menekankan pentingnya mempelajari langsung praktik kesenian dan kehidupan masyarakat yang menjadi sumber tradisi tersebut.

Didik juga mengingatkan bahwa ilmu dan pengalaman yang diperoleh sebaiknya tidak hanya digunakan untuk mengejar gelar atau pencapaian pribadi.

Pengetahuan tersebut, menurutnya, perlu dibagikan kepada masyarakat dan generasi penerus agar warisan budaya tetap dikenal serta dipelajari.

Melalui pesan napak lemah, Didik berharap generasi muda mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan kerendahan hati, semangat persatuan, dan kesadaran terhadap sejarah bangsanya.

Penulis :
Aditya Yohan
FLOII 2026