
Pantau - Wakil Sekretaris Jenderal Bidang Hukum, Pertahanan dan Keamanan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), Angga Putra Pratama, mendorong dialog terbuka terkait penyelenggaraan konser Andrea Bocelli di Indonesia untuk menjaga keseimbangan antara solidaritas terhadap Palestina, diplomasi budaya, dan pengembangan industri kreatif.
Angga menilai perbedaan pandangan mengenai konser penyanyi asal Italia tersebut perlu dibicarakan secara terbuka tanpa mengabaikan kepentingan kemanusiaan maupun potensi ekonomi.
Pernyataan itu disampaikan menjelang konser Andrea Bocelli yang dijadwalkan berlangsung di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, pada 31 Oktober 2026 dan JIExpo Kemayoran, Jakarta, pada 3 November 2026.
"Menurut saya, konser Andrea Bocelli seharusnya bisa menjadi momentum positif bagi Indonesia. Kita perlu melihatnya bukan semata-mata sebagai pertunjukan musik, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat diplomasi budaya, menggerakkan industri kreatif, dan membuka ruang kolaborasi internasional," kata Angga dalam keterangan di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
HMI Tekankan Solidaritas Palestina Tetap Menjadi Komitmen Indonesia
Angga menegaskan bahwa dukungan terhadap penyelenggaraan konser internasional tidak berarti mengesampingkan persoalan kemanusiaan, khususnya solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Menurutnya, Indonesia harus tetap mempertahankan komitmen terhadap Palestina sekaligus membuka ruang pengembangan diplomasi budaya dan industri kreatif.
Ia menilai ketiga kepentingan tersebut dapat dibicarakan secara proporsional melalui kebijakan yang jelas dan pelaksanaan kegiatan yang bertanggung jawab.
"Solidaritas terhadap Palestina harus tetap menjadi komitmen moral dan politik Indonesia karena itu merupakan harga mati sesuai konstitusi. Tetapi pada saat yang sama, kita juga perlu membangun industri kreatif yang kuat dan diplomasi budaya yang efektif. Keduanya tidak harus dipertentangkan. Yang diperlukan adalah cara pandang yang proporsional, kebijakan yang jelas serta pelaksanaan yang bertanggung jawab," ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul di tengah adanya penolakan terhadap konser Andrea Bocelli, termasuk sikap Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sebelumnya menyatakan tetap menolak penyelenggaraan konser tersebut.
Angga berpandangan bahwa dialog terbuka diperlukan agar perbedaan sikap dapat dibahas tanpa menutup ruang bagi kepentingan lainnya.
Konser Andrea Bocelli Dinilai Berpotensi Menggerakkan Ekonomi Lokal
Selain menyoroti aspek kemanusiaan, Angga menilai konser musik internasional memiliki potensi ekonomi yang lebih luas daripada sekadar penjualan tiket.
Menurutnya, penyelenggaraan pertunjukan berskala besar dapat memberikan peluang bagi sektor perhotelan, transportasi, kuliner, pariwisata, dan usaha mikro, kecil, serta menengah (UMKM).
Kegiatan tersebut juga berpotensi melibatkan pekerja kreatif, penyedia jasa produksi, tenaga tata panggung, pencahayaan, hingga tata suara.
Angga mengatakan manfaat ekonomi tersebut perlu menjadi salah satu pertimbangan dalam membahas penyelenggaraan konser Andrea Bocelli.
"Jangan melihat konser internasional hanya dari apa yang berlangsung di atas panggung. Ada pekerja kreatif, penyedia jasa, pelaku UMKM, sektor pariwisata, dan berbagai usaha pendukung yang berpotensi mendapatkan manfaat," ucap Angga.
Ia menambahkan bahwa potensi tersebut dapat memberikan dampak bagi pelaku usaha lokal apabila penyelenggaraan konser dirancang secara inklusif dan dikelola dengan baik.
Promotor Pastikan Konser Andrea Bocelli Tetap Berlangsung Sesuai Jadwal
Sebelumnya, promotor Shoemaker Live menyatakan konser bertajuk Andrea Bocelli Romanza 30th Anniversary World Tour Indonesia tetap akan digelar sesuai jadwal.
Pertunjukan pertama dijadwalkan berlangsung pada 31 Oktober 2026 di kawasan Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.
Konser berikutnya akan diselenggarakan pada 3 November 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Pihak promotor menyampaikan bahwa keputusan melanjutkan konser diambil setelah mendengarkan masukan dan melakukan dialog dengan berbagai pihak.
Penyelenggara juga mempertimbangkan sejumlah aspek strategis nasional, khususnya sektor pariwisata, kebudayaan, dan ekonomi kreatif.
Dengan jadwal konser yang semakin dekat, Angga mendorong agar pembahasan mengenai penyelenggaraannya tetap memperhatikan solidaritas kemanusiaan, diplomasi budaya, serta peluang ekonomi bagi masyarakat.
- Penulis :
- Ahmad Yusuf




