
Pantau - Kasandra Putranto, Psikolog klinis forensik dari Universitas Indonesia menyebut secondhand embarrassment atau perasaan malu tidak langsung untuk orang lain bisa dirasakan karena sifat dasar manusia yang berakar pada makhluk sosial, sehingga emosi yang dianggap dirasakan oleh seseorang bisa diserap oleh orang yang menyaksikan kejadian tersebut.
Secondhand embarrassment biasanya terjadi ketika mereka menyaksikan sesuatu yang dianggap memalukan atau canggung, yang mana hal ini dianggap sebagai stresor untuk mereka yang menyaksikannya.
Dilansir ANTARA, lebih lanjut ia menyarankan jika mengalami kondisi secondhand embarrassment akibat kejadian memalukan yang dilakukan oleh orang lain, cara menyikapinya adalah menyadari bahwa hal tersebut adalah normal dan banyak orang yang mengalaminya sehingga tidak perlu menyalahkan diri sendiri atau merasa terbebani.
Upaya lainnya yang bisa dilakukan untuk menyikapi kondisi ini dan agar perasaan tersebut tidak menjadi beban adalah menjaga perspektif atau pandangan bahwa kejadian tersebut tidak terjadi pada diri sendiri, ini bisa membuat kita tidak terlalu memberi perhatian pada perasaan malu tersebut. Kita juga dapat melihat dari sisi humor dan ambil sisi positif dari kejadian memalukan tersebut. Coba juga untuk alihkan pikiran kita pada hal-hal positif.
Selain itu, membicarakannya dengan orang lain tentang perasaan secondhand embarrassment yang dirasakan juga dapat membantu mengurangi beban emosional. Karena orang lain mungkin juga telah mengalami situasi serupa sehingga dengan berbagi dapat memberikan perspektif atau dukungan yang diperlukan.Apabila kejadian tidak nyaman tersebut dialami oleh orang yang dikenal, coba pahami situasi dan tunjukkan empati dengan tidak mengolok-olok kejadian memalukan tersebut kepada orang itu.
- Penulis :
- Latisha Asharani




