
Pantau - Memiliki tato bukan hanya soal gaya atau ekspresi diri, tapi juga melibatkan interaksi biologis kompleks yang dapat berdampak pada sistem kekebalan tubuh dan kesehatan jangka panjang.
Interaksi Pigmen Tato dengan Sistem Imun
Dosen Senior Mikrobiologi Medis dari Universitas Westminster, Manal Mohammed, menjelaskan bahwa saat tinta tato disuntikkan ke dalam kulit, pigmen yang masuk akan langsung berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh.
Studi terbaru menunjukkan bahwa pigmen tato dapat memengaruhi aktivitas sistem imun, memicu peradangan, bahkan menurunkan efektivitas vaksin tertentu.
“Para peneliti menemukan bahwa tinta tato diserap oleh sel-sel kekebalan di kulit. Ketika sel-sel ini mati, mereka melepaskan sinyal yang membuat sistem kekebalan tetap aktif, menyebabkan peradangan pada kelenjar getah bening di dekatnya hingga dua bulan,” ungkapnya.
Tinta tato sendiri merupakan campuran kimia kompleks yang terdiri dari pigmen warna, cairan pembawa tinta, pengawet untuk mencegah mikroba, serta sejumlah kecil pengotor.
Banyak pigmen tersebut awalnya dirancang untuk industri—seperti cat mobil, plastik, dan toner printer—bukan untuk disuntikkan ke dalam tubuh manusia.
“Beberapa tinta mengandung sejumlah kecil logam berat, termasuk nikel, kromium, kobalt, dan terkadang timbal. Logam berat dapat bersifat toksik pada kadar tertentu dan dikenal dapat memicu reaksi alergi dan sensitivitas imun,” jelas Manal.
Proses tato melibatkan penyuntikan tinta ke dalam lapisan dermis kulit.
Tubuh mengenali pigmen sebagai benda asing, dan sel imun berusaha menghilangkannya.
Namun, partikel terlalu besar untuk disingkirkan sepenuhnya, sehingga tetap terperangkap di dalam jaringan dan membuat tato bersifat permanen.
Potensi Toksisitas dan Risiko Jangka Panjang
Penelitian juga mengungkap bahwa pigmen tato dapat mengganggu sinyal imun, yaitu mekanisme komunikasi kimia antarsel kekebalan dalam merespons infeksi atau vaksinasi.
Selain itu, tinta tato sering mengandung senyawa organik seperti pewarna azo dan hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH)—zat yang umum digunakan dalam tekstil dan plastik.
Dalam kondisi tertentu seperti paparan sinar matahari berkepanjangan atau proses penghapusan tato dengan laser, senyawa tersebut dapat terurai menjadi amina aromatik.
Amina aromatik sendiri telah dikaitkan dengan risiko kanker dan kerusakan genetik dalam studi laboratorium.
“Saat ini, belum ada bukti epidemiologis yang kuat yang menghubungkan tato dengan kanker pada manusia. Namun, studi laboratorium dan hewan menunjukkan potensi risiko. Pigmen tato tertentu dapat terdegradasi seiring waktu, atau ketika terpapar sinar ultraviolet atau penghapusan tato laser, membentuk produk sampingan yang beracun dan terkadang karsinogenik,” jelas Manal.
Meski demikian, bagi sebagian besar orang, tato tidak menyebabkan masalah kesehatan serius.
Namun penting dipahami bahwa tato berarti memasukkan zat kimia ke dalam tubuh—zat yang tidak dirancang untuk tinggal lama di jaringan manusia dan bisa bersifat toksik dalam kondisi tertentu.
Tato yang lebih besar, berwarna-warni, dan jumlahnya banyak meningkatkan total beban kimia dalam tubuh.
Beban ini bisa diperparah oleh faktor eksternal seperti sinar matahari, penuaan, perubahan sistem imun, hingga penghapusan tato dengan laser.
Kombinasi berbagai faktor tersebut dapat memicu konsekuensi biologis yang hingga kini belum sepenuhnya dipahami oleh dunia sains.
- Penulis :
- Aditya Yohan








