
Pantau - Psikolog Cakra Medika, Ayu S. Sadewo, S.Psi., mengungkapkan bahwa remaja cenderung mengikuti tren karena dorongan kuat untuk diterima oleh lingkungan sosial serta rasa takut tertinggal atau fear of missing out (FOMO).
Dorongan Sosial dan Pencarian Identitas
Menurut Ayu, kebutuhan untuk diterima oleh teman sebaya menjadi faktor utama yang mendorong remaja mengikuti tren, meskipun berisiko.
"Yang penting bagi mereka adalah diterima. Risiko sering kali tidak menjadi pertimbangan utama. Ketika ada tren yang dianggap populer, muncul rasa kalau tidak ikut berarti ketinggalan atau tidak nyambung," ujarnya.
Selain faktor penerimaan sosial, rasa ingin tahu juga berperan besar dalam mendorong remaja mencoba hal-hal baru.
Ayu menjelaskan bahwa masa remaja merupakan fase pencarian jati diri, sehingga tren kerap dijadikan sarana untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
"Masa remaja saat seseorang ada dalam fase mencari identitas. Di usia ini, penerimaan orang lain jadi faktor yang penting bagi mereka – dianggap keren, dianggap seru, dianggap ‘sama’," katanya.
Fenomena Whip Pink dan Risiko Tren Viral
Fenomena tersebut terlihat pada tren gas tertawa atau whip pink yang belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.
Gas tertawa merupakan nitrous oxide (NO₂), zat yang biasa digunakan dalam dunia medis sebagai anestesi, namun disalahgunakan untuk tujuan rekreasional karena memberikan efek euforia sesaat.
Whip pink sendiri merupakan salah satu merek tabung nitrous oxide yang kerap dikaitkan dengan tren tersebut.
Perhatian publik terhadap tren ini meningkat setelah meninggalnya kreator konten Lula Lahfah yang dikaitkan oleh warganet dengan penggunaan gas tersebut, meskipun penyebab kematiannya belum dipastikan secara resmi oleh pihak berwenang.
Ayu menegaskan bahwa banyak remaja tidak sepenuhnya memahami risiko dari tren yang mereka ikuti.
Fokus mereka lebih tertuju pada validasi sosial, keinginan untuk diakui, serta keyakinan bahwa mereka mampu mengambil keputusan sendiri seperti teman-temannya.
Fenomena whip pink menjadi pengingat bahwa tren di media sosial dapat berdampak besar terhadap perilaku remaja.
Kondisi ini menegaskan pentingnya edukasi dan pemahaman risiko sebelum mengikuti sesuatu yang sedang populer.
- Penulis :
- Aditya Yohan








