Pantau Flash
No market data
HOME  ⁄  Lifestyle

Dokter Ungkap Tekanan Darah dan Gula Tinggi yang Tak Terkontrol Bisa Merusak Sistem Listrik Jantung

Oleh Ahmad Yusuf
SHARE   :

Dokter Ungkap Tekanan Darah dan Gula Tinggi yang Tak Terkontrol Bisa Merusak Sistem Listrik Jantung
Foto: (Sumber : Dokter Konsultan Aritmia Eka Hospital MT Haryono dr. Evan Jim Gunawan saat menjelaskan mengenai penyebab irama jantung menjadi tidak beraturan atau aritmia. ANTARA/Irfan)

Pantau - Dokter Konsultan Aritmia Eka Hospital MT Haryono dr. Evan Jim Gunawan menyatakan tekanan darah dan gula darah yang tidak terkontrol dapat merusak sistem listrik jantung sehingga menyebabkan gangguan irama jantung atau aritmia.

Ia menjelaskan hipertensi dan diabetes dapat mengubah struktur otot jantung yang pada akhirnya menghambat jalur sinyal listrik yang mengatur detak jantung.

"Hipertensi dan diabetes menjadi salah satu faktor yang bisa merusak sistem listrik jantung dan membuat irama jantung menjadi tidak beraturan atau aritmia," kata Evan di Tangerang, Rabu.

Sejumlah Faktor Bisa Ganggu Irama Jantung

Selain hipertensi dan diabetes, Evan menjelaskan gangguan pada kelenjar tiroid juga dapat memengaruhi sistem listrik jantung.

Ia mengatakan kelenjar tiroid yang terlalu aktif maupun kurang aktif dapat memengaruhi kecepatan detak jantung.

Gangguan tidur yang menyebabkan napas berhenti sejenak juga dapat membebani jantung sehingga memicu perubahan irama jantung.

Selain itu, kekurangan mineral penting seperti kalium atau magnesium dalam darah juga dapat mengganggu transmisi sinyal listrik jantung.

"Tubuh kita sebenarnya sangat pintar dalam mengirimkan tanda peringatan. Jika mengalami perubahan detak jantung yang tak biasa maka segera melakukan screening sejak dini untuk mengantisipasi gangguan medis yang mungkin ada di tubuh," ujarnya.

Aritmia Bisa Bersifat Wajar atau Berbahaya

Evan menjelaskan jantung memiliki sistem kelistrikan yang kompleks untuk mengatur kontraksi otot jantung sehingga detaknya tetap stabil.

Dalam kondisi normal, sinyal listrik mengalir tanpa hambatan sehingga irama jantung tetap teratur.

Namun jika terjadi gangguan pada jalur listrik tersebut, irama jantung dapat menjadi terlalu cepat, terlalu lambat, atau tidak beraturan yang dikenal sebagai aritmia.

"Kondisi irama jantung yang tidak beraturan inilah yang disebut sebagai aritmia. Ada yang berdetak terlalu cepat, berdetak terlalu lambat hingga tidak teratur," katanya.

Ia menambahkan terdapat dua jenis debaran jantung yakni fisiologis atau wajar dan kondisi yang berbahaya.

Debaran jantung yang wajar biasanya terjadi setelah mengonsumsi kafein berlebihan, berolahraga berat, atau mengalami emosi kuat seperti stres, takut, atau panik.

Namun debaran jantung yang berbahaya biasanya muncul tiba-tiba tanpa pemicu jelas, berlangsung lama, atau disertai gejala fisik lain sehingga memerlukan pemeriksaan medis.

Teknologi Medis Bantu Penanganan Aritmia

Evan mengatakan perkembangan teknologi medis saat ini memungkinkan aritmia ditangani secara efektif melalui berbagai metode pengobatan.

Salah satu prosedur yang banyak digunakan adalah ablasi jantung yang merupakan tindakan minimal invasif untuk memperbaiki jalur listrik jantung yang bermasalah.

"Pada penanganan ini, dokter akan memperbaiki jalur listrik yang rusak agar irama jantung kembali normal tanpa perlu operasi bedah terbuka. Selain itu, penggunaan alat pacu jantung (pacemaker) juga telah membantu banyak orang kembali beraktivitas," katanya.

Penulis :
Ahmad Yusuf
Editor :
Ahmad Yusuf